RADARSOLO.COM — Upaya pelestarian seni tradisi yang dipadukan dengan pendidikan karakter berbasis moderasi beragama diwujudkan melalui kegiatan Inovasi Lakon Wayang Kulit 2D "Bhinneka Sadasa" dalam Pendidikan Dalang Anak yang diselenggarakan di Padepokan Seni Sarotama, Karanganyar, pada Sabtu, 20 Desember 2025, pukul 20.00-22.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Institut Seni Indonesia Surakarta melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025.
Program tersebut berada di bawah naungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.
Mengusung inovasi lakon wayang kulit dua dimensi (2D), pertunjukan "Bhinneka Sadasa" menghadirkan puluhan dalang anak dan penabuh gamelan anak yang tampil secara kolaboratif.
Lakon yang disajikan tidak hanya menonjolkan estetika seni pertunjukan wayang, tetapi juga mengandung pesan-pesan kebangsaan dan nilai moderasi beragama, seperti toleransi, anti-kekerasan, cinta tanah air, serta penghargaan terhadap keberagaman.
Ketua program pengabdian, Dr. Jiyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai model pendidikan karakter berbasis seni budaya yang relevan dengan dunia anak.
Menurutnya, wayang memiliki posisi strategis sebagai media pendidikan karena mampu menghadirkan nilai-nilai moral secara menarik dan bermakna.
"Wayang pada hakikatnya tidak hanya hadir sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai sarana pembelajaran nilai. Melalui inovasi lakon wayang kulit 2D "Bhinneka Sadasa" ini, pesan-pesan moderasi beragama—seperti toleransi, kebhinekaan, dan semangat cinta damai—disampaikan secara kontekstual dan mudah dipahami oleh anak-anak," ungkapnya.
"Keterlibatan anak sebagai dalang sekaligus penonton menjadikan mereka tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai pendidikan karakter secara alami," jelasnya.
Pertunjukan ini disambut antusias oleh ratusan penonton yang terdiri atas masyarakat umum, tokoh seniman, dosen seni, serta pemerhati pendidikan budaya.
Selain disaksikan secara langsung, kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube mitra kegiatan, Padepokan Seni Sarotama, sehingga menjangkau audiens yang lebih luas.
Antusiasme tidak hanya terlihat dari respons penonton di lokasi, tetapi juga dari interaksi pemirsa melalui media sosial.
Banyak di antara mereka menyampaikan harapan agar pendidikan moderasi beragama melalui seni, khususnya wayang, dapat dilakukan secara berkelanjutan dan bahkan diintegrasikan ke dalam pendidikan formal sebagai alternatif pembelajaran karakter berbasis budaya lokal.
Di akhir kegiatan, Singgih Sri Cundomanik, S.Sn., M.Sn., selaku perwakilan mitra PISN 2025, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, serta tim pelaksana dari ISI Surakarta," tuturnya
"Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi, seniman, dan masyarakat mampu melahirkan inovasi seni yang berdampak nyata bagi pendidikan dan penguatan karakter generasi muda," sambungnya.
Melalui inovasi lakon Wayang Kulit 2D "Bhinneka Sadasa", kegiatan ini menegaskan bahwa seni tradisi tetap relevan sebagai media pendidikan nilai kebangsaan dan moderasi beragama, sekaligus menjadi ruang tumbuh kreativitas bagi dalang anak sebagai generasi penerus budaya bangsa.(*)
Editor : Nur Pramudito