DI era digital, akses internet menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Namun, banyak desa wisata masih tertinggal dalam hal infrastruktur digital.
Hal ini yang terjadi di Wisata Siblarak, Desa Sidowayah, Polanharjo, Klaten.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BUMDes Sinergi Sidowayah menggandeng tim PKM dari Universitas Tiga Serangkai untuk mengembangkan kemandirian digital masyarakat sekaligus memperluas konektivitas di kawasan wisata ini.
Wisata Siblarak dikenal dengan kolam renang, area outbound, pendopo joglo, kuliner, hingga camping ground.
Jumlah pengunjung meningkat setiap tahun, tetapi fasilitas hotspot terbatas hanya untuk keperluan internal pengelola.
Kondisi ini menimbulkan dua masalah utama: sinyal terbatas di berbagai titik wisata dan minimnya tenaga lokal yang mampu mengelola serta merawat jaringan hotspot.
Tanpa koneksi internet yang stabil, promosi digital dan pengalaman pengunjung tidak maksimal.
Transformasi Digital: Lebih dari Sekadar WiFi
Program yang dijalankan fokus pada pengembangan kapasitas masyarakat desa, khususnya staf BUMDes, agar mampu mengelola infrastruktur digital secara mandiri. Dua strategi utama diterapkan:
1. Perluasan Jaringan Hotspot di Wisata Siblarak
Tim menambah tiga titik hotspot di area wisata. Router dan access point outdoor dipasang di tiang besi untuk menjangkau seluruh lokasi.
Selain itu, jalur internet cadangan dari ISP lain juga disiapkan untuk menjaga konektivitas tetap stabil jika terjadi gangguan. Dengan pengaturan bandwidth yang optimal, pengunjung dapat menikmati layanan internet cepat dan stabil di seluruh area.
2. Pelatihan Manajemen Infrastruktur untuk Staf Lokal
Sebanyak 10 staf wisata mendapatkan pelatihan menyeluruh tentang:
- Dasar-dasar jaringan hotspot
- Pemeliharaan perangkat dan troubleshooting
- Pengelolaan welcome page sebagai media informasi dan promosi
- Praktik langsung pengecekan kabel, router, dan access point
Targetnya, setidaknya 50% staf mampu melakukan perawatan rutin tanpa bantuan teknisi eksternal, memastikan kemandirian operasional jangka panjang.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Konektivitas Digital
Konektivitas internet yang handal membawa manfaat luas. Wisatawan dapat membagikan pengalaman melalui media sosial, mengakses informasi kuliner, wahana, dan fasilitas secara mandiri, serta memanfaatkan welcome page untuk informasi real-time.
Bagi BUMDes, kemandirian dalam mengelola jaringan berarti efisiensi biaya dan peningkatan kapasitas SDM.
UMKM di area wisata juga dapat memanfaatkan jaringan untuk promosi digital.
Program ini sejalan dengan agenda pemerintah seperti Asta Cita, SDGs Pendidikan Berkualitas, serta Industri–Inovasi Infrastruktur.
Bagi perguruan tinggi, proyek ini menjadi indikator kinerja mahasiswa dalam pengabdian dan keterlibatan langsung di masyarakat.
Mahasiswa Terlibat Langsung: Pendidikan Relevan Lapangan
Program ini juga menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa Universitas Tiga Serangkai. Mereka tidak hanya belajar teori jaringan di kelas, tetapi merancang, memasang, dan menguji sistem di lapangan.
Interaksi langsung dengan masyarakat memberikan pengalaman belajar sosial yang tak bisa didapatkan di buku teks.
Menuju Desa Wisata Digital yang Mandiri
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari kecanggihan perangkat, tetapi dari kemampuan masyarakat mengelola teknologi.
Dengan staf yang mampu melakukan perawatan mandiri dan memaksimalkan welcome page, Wisata Siblarak kini siap bersaing di era digital.
Desa wisata ini kini tidak hanya menawarkan keindahan alam dan keseruan wahana, tetapi juga kenyamanan digital bagi pengunjung.
Konektivitas yang baik membuka peluang promosi lebih luas, pertumbuhan ekonomi desa, serta pengalaman wisata yang berkualitas.
Inisiatif ini menegaskan bahwa transformasi digital desa bukan sekadar teknologi, melainkan pemberdayaan manusia sebagai penggerak utama.
Editor : Syahaamah Fikria