RADARSOLO.COM – Anjloknya hasil tes kemampuan akademik (TKA) siswa memunculkan keprihatinan dari kalangan akademisi. Ketua Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret (UNS) Joko Nurkamto mengaku, rendahnya hasil tersebut tidak semata dari faktor siswa. Namun juga berkaitan dengan kualitas dan kesiapan guru, dalam mengajarkan materi pembelajaran.
Menurut Joko, kemampuan guru dinilai masih kurang. Terlihat dari data uji kompetensi guru yang masih rendah.
Berdasarkan hasil uji kompetensi guru (UKG) nasional, nilai rata-rata guru hanya 56,69 dari skala 100, yang mencakup kompetensi pedagogik dan profesional. Kondisi tersebut berdampak langsung pada proses pembelajaran di kelas.
“Misalnya ada enam level tingkat kesulitan soal, guru umumnya baru bisa menyusun sampai level tiga. Soalnya masih seputar fakta dan hafalan, belum sampai pada analisis, evaluasi, dan pembelajaran mendalam,” urai Joko.
Joko juga menyoroti persoalan sistem pendidikan di Indonesia yang belum tertata dari hulu. Ia membandingkan dengan Finlandia, yang dikenal memiliki sistem pendidikan kuat.
“Di Finlandia, guru direkrut dari lulusan terbaik. Sementara di Indonesia, lulusan terbaik justru banyak yang memilih profesi lain seperti dokter. Padahal kualitas pendidikan sangat ditentukan dari kualitas gurunya,” imbuhnya.
Kendati demikian, Joko menilai hadirnya TKA merupakan langkah positif. Karena bisa menjadi alat evaluasi nasional, mengingat penilaiannya dilakukan langsung oleh pemerintah pusat.
“Kalau penilaian lewat sekolah, sering terjadi nilainya dikatrol. Akibatnya, tidak mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya,” beber Joko.
Terkait faktor kesiapan siswa, juga turut memengaruhi hasil TKA. Sebelumnya, tes tersebut sempat dianggap tidak wajib. Sehingga tidak semua siswa mempersiapkan diri secara maksimal.
“Kalau mahasiswa saja masih banyak yang kesulitan ketika diminta menganalisis, apalagi siswa (SMA/SMK). Dengan kondisi guru yang belum ideal, bisa dibayangkan kemampuan siswa saat ini,” ujarnya.
Setali tiga uang, Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS Sutanto menilai, jebloknya nilai TKA tidak lepas dari persoalan metode pembelajaran dan sistem pendidikan yang belum terstruktur dengan baik.
“Di Malaysia ada uji kompetensi numerik, yang konsepnya jelas dan disusun secara mendasar. Bukan sekadar tes, tapi ada sistem literasi numerik yang terorganisasi dengan rapi. Di Indonesia, TKA tiba-tiba muncul,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA), yang selama ini menunjukkan capaian Indonesia masih rendah. Namun, itu tidak diiringi evaluasi secara menyeluruh.
“Indonesia sudah berkali-kali ikut PISA dan hasilnya jelek. Tapi tidak ada upaya serius untuk menata ulang sistemnya. Berbeda dengan Malaysia yang benar-benar menyiapkan literasi numerik secara sistematis,” bebernya.
Menurut Sutanto, soal-soal TKA yang bersifat analitis dan menuntut kemampuan berpikir kritis, sulit dihadapi siswa. Karena itu tidak sesuai dengan pengalaman belajar mereka di kelas.
“Kalau siswa tiba-tiba diminta menganalisis pertambahan volume embung, tentu sulit. Itu bukan soal yang biasa mereka temui dalam pembelajaran sehari-hari,” jelasnya.
Sutanto menegaskan, persoalan utama terletak pada metode teaching and learning di sekolah yang masih didominasi lower order thinking skills (LOTS). Sedangkan TKA menuntut higher order thinking skills (HOTS).
“Jebloknya nilai TKA ini bukan sepenuhnya salah siswa. Ini masalah sistem, metode pembelajaran, dan kurikulum yang belum mendukung pembentukan critical thinking,” paparnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto