Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Josjis! Tiga Siswi SMPN 12 Solo Bikin Scrub Pembersih Muka Dari Kulit Mentimun Limbah MBG, Ini Cara Pembuatannya

Alfida Nurcholisah • Jumat, 2 Januari 2026 | 17:45 WIB

 

Siswa kelas VIII SMPN 12 Solo memperlihatkan bahan dasar dan scrub dari kulit mentimun.
Siswa kelas VIII SMPN 12 Solo memperlihatkan bahan dasar dan scrub dari kulit mentimun.

RADARSOLO.COM - Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan, siswa SMPN 12 Solo mengolah limbah program makan bergizi gratis (MBG) berupa kulit mentimun, menjadi produk scrub atau pembersih wajah alami. Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah organik di lingkungan sekolah, tetapi juga sarana pembelajaran praktik pengolahan sampah, kewirausahaan, serta penerapan gaya hidup ramah lingkungan.

SCRUB kulit mentimun ini karya tiga siswa kelas VIII SMPN 12 Solo, yakni Sefil Patrizia Aristawati, Ailsa Candra Wimala, dan Pritanova Andrianto Putri. Di tangan mereka, sisa MBG yang sering terbuang diolah menjadi produk bernilai ekonomis.

“Awalnya kami melihat banyak timun yang jarang dimakan, akhirnya menjadi sisa makanan. Kami lalu kepikiran untuk memanfaatkannya. Tadinya bingung mau dibuat apa, lalu kami konsultasi dengan guru. Akhirnya bikin scrub dari kulit timun,” ujar Sefil, Jumat (2/1).

Proses pembuatan scrub dimulai dengan memisahkan kulit timun dari dagingnya. Setelah itu, kulit timun dihaluskan hingga menjadi bubuk. Lalu dicampurkan dengan tepung beras, air mawar, dan milk cleanser.

Komposisi yang digunakan, yakni empat kulit timun dicampur 100 mililiter (ml) air mawar dan 100 ml milk cleanser. Kemudian ditambahkan tepung beras untuk memberikan tekstur kasar, agar mampu membersihkan kotoran pada kulit.

“Formula ini kami temukan setelah beberapa kali percobaan. Sebelumnya kami sempat mengalami kendala, mulai dari adonan yang terlalu encer hingga terlalu keras. Setelah mencoba beberapa komposisi, akhirnya kami menemukan tekstur yang pas,” imbuhnya.

Kendala lain yang dihadapi yakni faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi membuat proses pengeringan adonan membutuhkan waktu lebih lama. Idealnya, proses penjemuran membutuhkan waktu sehari dengan intensitas cahaya matahari yang cukup agar hasilnya maksimal.

“Setelah adonan tercampur, masih ada proses pengeringan dengan cara dijemur. Kalau hujan terus, waktu pengeringannya jadi lebih lama,” bebernya.

Produk scrub kulit timun ini telah diuji coba secara mandiri kepada beberapa siswa di SMPN 12 Solo. Selain itu, produk ini juga sempat diserahkan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo untuk mendapatkan penilaian. Bahkan mendapat apresiasi, dengan diikutsertakan dalam ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) 2025.

“Waktu itu kami belum menjual produk ini. Ya karena belum mengantongi izin BPOM. Jadi belum bisa bersaing untuk meraih juara,” sambung Ailsa.

Meski belum dipasarkan secara resmi, kemasan scrub seberat 25 gram tersebut kerap menarik perhatian dan ditawar sejumlah pihak. Namun, pihak sekolah masih berhati-hati untuk memasarkan produk secara luas.

“Ke depannya mungkin akan kami upayakan untuk dipasarkan lebih luas. Tentu dengan mengurus perizinan BPOM terlebih dahulu,” papar guru pendamping Retno.

Selain dari limbah MBG, di masa libur sekolah siswa diajak mengumpulkan kulit timun dari pedagang rujak di sekitar sekolah. Langkah ini dilakukan untuk membiasakan siswa memanfaatkan barang sisa, sekaligus menumbuhkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami selalu mengupayakan penggunaan bahan sisa, agar anak-anak terbiasa berpikir kreatif dan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan,” ujarnya.

Retno juga berharap kreativitas siswa terus berkembang dan menjadi bekal berharga bagi mereka. Terutama dalam menghadapi tantangan kehidupan maupun dunia industri di masa mendatang. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#scrub dari kulit mentimun limbah mbg #scrub kulit mentimun karya siswi smpn 12 solo