RADARSOLO.COM – Pemkot Solo akan segera memberlakukan jam wajib belajar malam sebagai upaya memperkuat peran orang tua dalam pola asuh dan pengawasan anak di rumah. Kebijakan tersebut rencananya diterbitkan dalam bentuk edaran resmi pada awal Februari mendatang.
Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga. Menurutnya, ketika anak berada di sekolah, pembinaan menjadi tugas guru, namun saat di rumah peran tersebut sepenuhnya berada di tangan orang tua.
“Jam wajib belajar malam ini kami imbau agar orang tua ikut andil dalam pola asuh anak. Di malam hari orang tua bisa mengawasi, mendampingi, bahkan belajar bersama anak,” ujar Respati saat ditemui di Zigna Hotel, Kamis (8/1) .
Bersamaan dengan kebijakan tersebut, Pemkot Solo juga akan meluncurkan pembatasan screen time bagi anak. Langkah ini diambil untuk meminimalkan distraksi penggunaan gawai yang dinilai kerap mengganggu konsentrasi belajar anak di rumah.
“Pembatasan screen time akan kami launching bersamaan dengan jam wajib belajar malam. Semua lapisan masyarakat akan kita sampaikan terkait kebijakan ini,” jelasnya.
Selain itu, Respati juga menyinggung maraknya aktivitas nongkrong anak-anak di sejumlah coffee shop pada malam hari. Dia menyatakan telah memanggil para pelaku usaha untuk melakukan penertiban, khususnya terkait Andalalin atau analisis dampak lalu lintas di kawasan usaha tersebut.
“Kami juga bekerja sama dengan satpol PP. Anak-anak yang masih nongkrong di coffee shop saat jam belajar, akan kami data dan dilaporkan ke sekolah masing-masing,” tegasnya.
Sementara itu, belum lama ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo Dwi Aryatno menekankan, pentingnya peran lingkungan keluarga dalam menciptakan ruang belajar yang efektif di rumah. Menurutnya, malam hari merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mengulang materi pelajaran atau mempersiapkan pembelajaran keesokan harinya.
“Kami sudah merancang metode pembelajaran dan meningkatkan kompetensi guru, tetapi ketika sampai di rumah anak justru bermain. Ini yang perlu kita upayakan bersama,” ujarnya.
Dwi berharap orang tua kembali aktif mengingatkan kewajiban belajar anak agar hasil pendidikan dapat lebih optimal. Dia menilai pola pengasuhan yang mendukung disiplin belajar kini mulai jarang ditemui, sehingga perlu dihidupkan kembali melalui kebijakan bersama. (alf/nik)
Editor : fery ardi susanto