Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Masih Banyak PR Pendidikan, Wamen Dikdasmen: Pemerintah Targetkan 150 Ribu Guru Raih Beasiswa S1 dan Revitalisasi 60 Ribu Sekolah

Iwan Kawul • Kamis, 15 Januari 2026 | 13:09 WIB
Wamen Dikdasmen Riza Ul Haq beberkan PR pendidikan di Sukoharjo. (Iwan Kawul/Radar Solo)
Wamen Dikdasmen Riza Ul Haq beberkan PR pendidikan di Sukoharjo. (Iwan Kawul/Radar Solo)

RADARSOLO.COM  – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) Fajar Riza Ul Haq membedah sederet tantangan fundamental yang masih membayangi dunia pendidikan Indonesia. Dia menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan secara instan atau parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahan dari hulu hingga hilir.

“Mulai dari kualitas tenaga pendidik, infrastruktur yang usang, kesenjangan digital, hingga masalah kesehatan dasar peserta didik menjadi PR (pekerjaan rumah) besar yang sedang diakselerasi penyelesaiannya oleh kementerian,” ujar Fajar dalam kunjungannya di Gedung Budi Sasono, Sukoharjo, Kamis kemarin (15/1)

Pemerintah menempatkan pembenahan sarana fisik sebagai prioritas utama pada 2026. Target penerima bantuan revitalisasi fasilitas pendidikan melonjak signifikan hingga menyasar hampir 60 ribu sekolah.

Tak hanya fisik bangunan, senjata pembelajaran digital juga diperkuat dengan distribusi 288 ribu unit papan interaktif digital (interactive flat panel/IFP) ke berbagai pelosok negeri. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan literasi dasar dan numerasi anak-anak Indonesia yang masih rendah menurut standar global (PISA).

"Ini bukan sekadar soal teknologi, tapi upaya agar anak-anak kita tidak mengalami kesenjangan literasi digital. Kami juga mendorong mata pelajaran coding dan AI, bukan untuk mencetak programmer sejak dini, tapi untuk mengajarkan hakikat dan tanggung jawab penggunaan teknologi," ujar Fajar.

Persoalan sumber daya manusia (SDM) menjadi sorotan tajam. Wamen mengungkapkan fakta bahwa masih banyak guru di Indonesia yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan S1 atau D4, sehingga mereka terganjal dalam memperoleh sertifikasi profesional.

Sebagai solusi konkret, pemerintah meluncurkan program beasiswa bagi 150 ribu guru tahun ini untuk melanjutkan pendidikan tinggi. "Jika mereka lulus PPG (Pendidikan Profesi Guru), kompetensi mereka meningkat dan kesejahteraannya juga naik melalui tunjangan sertifikasi sekitar Rp 2 juta per bulan," imbuhnya.

Fajar juga menyoroti aspek kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Riset menunjukkan sekitar 60 persen anak sekolah berangkat tanpa sarapan, yang berdampak langsung pada daya konsentrasi di kelas. Hal inilah yang mendasari pentingnya peran Badan Gizi Nasional (BGN) masuk ke ekosistem sekolah guna memperbaiki gizi dan menekan angka stunting.

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga menjadi fokus baru. Peran guru bimbingan konseling (BK) kini diperkuat sebagai pendamping psikologis siswa, bukan lagi sekadar "penjaga ketertiban" sekolah.

Wamen Dikdasmen mengingatkan bahwa regulasi sehebat apa pun, termasuk Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2025, tidak akan bermakna tanpa eksekusi yang kuat di level akar rumput.

"Kepala sekolah dan guru adalah ujung tombak. Problem kita selama ini adalah kemampuan implementasi kebijakan. Kami akan terus berdialog agar mereka mampu menerjemahkan kebijakan ini menjadi tindakan nyata di ruang kelas," tegas Fajar Riza Ul Haq. (kwl/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno