Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

SD di Solo Kekurangan 88 Guru, Kepala Sekolah Kewalahan Atasi Kelas Kosong

Alfida Nurcholisah • Kamis, 29 Januari 2026 | 13:05 WIB
FOKUS: Guru kelas 3 di SDN Danukusuman tengah mengajarkan siswanya, belum lama ini
FOKUS: Guru kelas 3 di SDN Danukusuman tengah mengajarkan siswanya, belum lama ini

RADARSOLO – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta mencatat jenjang sekolah dasar (SD) masih mengalami kekurangan 88 guru. Kondisi tersebut dibenarkan sejumlah sekolah dasar di Solo yang kini harus berjibaku mengatasi kekosongan kelas akibat keterbatasan tenaga pendidik.

Kekurangan guru ini sebagian besar disebabkan oleh pengangkatan guru menjadi kepala sekolah serta gelombang pensiun yang belum diimbangi pemenuhan guru pengganti.

Dampaknya, sejumlah kelas terpaksa kosong atau diisi dengan skema darurat. Situasi ini membuat kepala sekolah kewalahan menjaga keberlangsungan proses pembelajaran.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan SDN Danukusuman. Wakil Kepala Sekolah SDN Danukusuman, Aulia Wulandari, menyampaikan bahwa sekolahnya saat ini kekurangan satu guru kelas, khususnya di kelas 6 yang membutuhkan pendampingan intensif menjelang Tes Kemampuan Akademik (TKA).

“Sekolah kami kekurangan guru kelas 6 karena guru sebelumnya lolos seleksi dan diangkat menjadi kepala sekolah,” ujarnya.

Sebagai sekolah paralel, SDN Danukusuman terpaksa menerapkan skema penggabungan kelas agar tidak terjadi kekosongan jam pelajaran. Untuk sementara, pembelajaran kelas 6A dan 6B digabung sambil menunggu penempatan guru baru.

“Namun kami juga kewalahan. Jika satu-satunya guru kelas 6 mendapat penugasan dinas, kelas otomatis kosong. Biasanya hanya bisa diisi dengan penugasan sementara dan pengawasan dari guru lain,” paparnya.

Situasi serupa juga dialami SDN Banyuanyar 1. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SDN Banyuanyar 1, Suyanto, mengungkapkan sekolahnya juga kekurangan satu guru kelas.

Awalnya, kekosongan terjadi di kelas 6. Namun karena siswa kelas akhir membutuhkan pendampingan lebih intensif, pihak sekolah mengalihkan guru dari kelas lain.

“Awalnya yang kosong guru kelas 6. Karena kelas 6 membutuhkan pendampingan maksimal, akhirnya diisi dari guru kelas 3. Sekarang justru guru kelas 3 yang kosong,” jelasnya.

Menurut Suyanto, secara ideal kekurangan guru kelas dapat ditangani langsung oleh kepala sekolah. Namun hal itu tidak memungkinkan karena dirinya merangkap jabatan sebagai Kepala SDN Tempel sekaligus Plt Kepala SDN Banyuanyar 1.

Ia juga menambahkan bahwa mulai 1 Februari mendatang, SDN Tempel kembali akan mengalami kekurangan dua guru akibat pensiun. Kondisi tersebut berpotensi memperluas persoalan kekurangan tenaga pendidik di sekolah dasar.

“Harapan saya kekurangan guru ini bisa segera terpenuhi. Orangtua sudah mulai memprotes, apalagi kekurangannya terjadi di kelas 6. Ini jelas membuat pembelajaran tidak maksimal, padahal siswa tinggal beberapa bulan lagi menghadapi TKA,” tandasnya.

Kekurangan guru ini dinilai sangat krusial oleh para tenaga pendidik karena berdampak langsung pada kualitas layanan pendidikan.

Sekolah berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan guru di masing-masing sekolah agar proses pembelajaran berjalan optimal. (alf/nik)

Editor : Niko auglandy
#sekolah dasar #tka #kelas 1