RADARSOLO.COM - Pelajaran sejarah sering kali identik dengan tumpukan buku kusam, deretan angka tahun yang dingin, dan narasi panjang yang kerap membuat kelopak mata siswa berat. Namun, di salah satu ruang kelas MAN 1 Solo, suasana itu mendadak sirna. Tidak ada kantuk, yang ada justru binar rasa penasaran saat sang guru, Rusdi Mustapa, 48, mengeluarkan telepon pintarnya.
Senin (2/2) siang itu, Rusdi tidak hanya bercerita tentang runtuhnya tembok Keraton Kartasura melalui lisan. Lewat bantuan proyektor, ia menyuguhkan sebuah simulasi visual yang dramatis. Fragmen sejarah masa lalu hadir kembali dalam bentuk video point of view (POV) yang artistik—sebuah mahakarya kolaborasi antara teks sejarah klasik dan kecerdasan buatan atau AI.
Pria kelahiran Klaten, 9 Desember 1978 ini, memang sedang "jatuh cinta" pada teknologi. Melalui akun Instagram pribadinya, @pakr_hunting, Rusdi memamerkan bagaimana sejarah bisa dikemas semanis konten media sosial kekinian.
Dalam video yang diputar siang itu, para siswa diajak menyaksikan simulasi suasana perang di sekitar Keraton Kartasura sebelum singgasana Mataram Islam berpindah ke Desa Sala.
"Kita belajar sejarah dengan simulasi video AI agar anak-anak mendapatkan gambaran utuh tentang peristiwa masa lalu yang sulit dicapai hanya dengan imajinasi," terang Rusdi di depan puluhan muridnya.
Bagi Rusdi, metode ini adalah cara untuk "menjemput" para siswanya di dunia mereka sendiri—dunia digital. Ia ingin sejarah tak lagi terasa jauh dan membosankan, melainkan terasa dekat dan melibatkan emosi para siswa.
Proses kreatif Rusdi tergolong canggih namun praktis. Ia memulainya dengan memilah materi sejarah yang akurat, lalu meracik prompt (instruksi) melalui ChatGPT. Tak berhenti di sana, instruksi tersebut divisualisasikan menggunakan aplikasi Sora, dan akhirnya dipoles dengan sentuhan penyuntingan di CapCut.
Hasilnya? Sebuah video edukasi sejarah yang asyik. Rusdi tampil di depan layar seolah sedang memandu wisata masa lalu, dengan latar belakang peristiwa bersejarah yang dibangun secara detail oleh AI.
"Konsepnya POV sejarah. Ada wajah pembuatnya di sana, seolah sedang mengajar langsung di lokasi peristiwa," ujar guru yang berdomisili di Gondangrejo, Karanganyar ini.
Inovasi Rusdi tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia mulai melatih anak didiknya untuk menjadi kreator konten sejarah yang bijak. Rusdi berencana memberikan tugas pembuatan video berbasis AI kepada para siswa, dengan misi mengangkat peristiwa-peristiwa penting di Kota Solo.
Baginya, ini adalah cara ganda untuk mendidik dan menyalurkan ilmu sejarah sekaligus mengajarkan literasi digital yang positif. "Respons anak-anak sangat baik. Selain edukasi sejarah jadi lebih menarik, ini melatih mereka memanfaatkan media sosial untuk hal yang berfaedah dan kreatif," tambahnya.
Di tangan Rusdi Mustapa, sejarah bukan lagi sekadar masa lalu yang terkubur. Lewat jemari yang lihai memainkan algoritma AI, ia berhasil membawa marwah Keraton Kartasura dan kejayaan Mataram Islam terbang melintasi zaman, mendarat dengan keren di layar ponsel generasi Z. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno