RADARSOLO.COM–Sebanyak 10 mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 145 Desa Pranan menggelar kegiatan edukasi peningkatan kesehatan anak melalui pelatihan pembuatan mainan stimulasi perkembangan balita di Posyandu Sudan, Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Kamis (5/2/2026).
Kegiatan kolaborasi mahasiswa KKN dengan kader posyandu ini melibatkan para orang tua sebagai bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Ketua Kelompok KKN UNS 145 Desa Pranan, Lintang Suminar dari Fakultas Hukum UNS, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua dan kader posyandu tentang pentingnya stimulasi perkembangan balita yang tepat sesuai usia.
Menurutnya, keterlibatan langsung orang tua menjadi kunci agar proses stimulasi dapat dilakukan secara berkelanjutan di rumah.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin orang tua memiliki pengetahuan dan keterampilan sederhana yang bisa langsung dipraktikkan untuk mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Pelatihan ini menghadirkan dua pemateri, yakni mahasiswa KKN UNS Kelompok 145 Desa Pranan, Eufrasya Gabrielle Kezia A dari Fakultas Kedokteran Jurusan Kebidanan UNS, serta Bidan Desa Pranan, Endah Safitri Wulandari, A.Md.Keb.
Kegiatan tersebut diikuti 24 peserta yang terdiri atas ibu-ibu kader posyandu beserta balita.
Eufrasya Gabrielle Kezia A menjelaskan bahwa stimulasi merupakan rangsangan yang datang dari lingkungan anak dan sangat berperan dalam proses tumbuh kembang balita.
Rangsangan tersebut dapat berupa penglihatan, pendengaran, bicara, hingga perabaan yang diberikan secara terarah dan sesuai usia anak.
Ia menekankan pentingnya interaksi langsung antara orang tua dan anak dibandingkan pemberian gawai.
“Daripada memberikan handphone pada anak, akan jauh lebih baik jika orang tua memberikan stimulasi yang tepat melalui aktivitas bermain dan interaksi langsung,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai hasil penelitian menunjukkan durasi screen time yang berlebihan dapat berdampak pada perkembangan komunikasi anak, termasuk risiko keterlambatan bicara atau speech delay.
Baca Juga: 2.050 Mahasiswa UNS Diterjunkan KKN ke 9 Provinsi, Turun ke Desa Selama 45 Hari
Hal ini terjadi karena anak kehilangan kesempatan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, padahal interaksi tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun kemampuan bahasa dan sosial.
Menurut Eufrasya, sejak bayi baru lahir, otak manusia telah memiliki sekitar 100 miliar neuron atau sel saraf.
Seiring pertumbuhan, neuron-neuron tersebut akan membentuk sambungan antarsel saraf yang sangat dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungan.
“Jika sambungan neuron sering distimulasi, maka koneksi akan semakin kuat. Sebaliknya, tanpa rangsangan, sambungan tersebut bisa melemah,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa stimulasi tidak harus menggunakan alat yang mahal.
Orang tua dapat memanfaatkan mainan sederhana atau bahan yang ada di sekitar rumah selama aman bagi anak.
Mainan stimulasi perkembangan bisa dibuat sendiri dan disesuaikan dengan usia balita, sehingga sekaligus mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.
Eufrasya juga memaparkan empat sektor utama perkembangan balita yang perlu mendapat perhatian, yakni personal sosial, bahasa, motorik halus, dan motorik kasar.
Keempat sektor tersebut saling berkaitan dan menjadi indikator penting untuk menilai kesesuaian perkembangan anak dengan usianya.
Untuk memantau perkembangan tersebut, ia menyebutkan instrumen skrining seperti Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) dan Denver Developmental Screening Test (DDST) yang berguna untuk mendeteksi dini adanya keterlambatan perkembangan.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Endang Purwantini, menyampaikan, kegiatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat.
Ia menilai ibu-ibu kader posyandu dan para orang tua balita sangat antusias mengikuti edukasi dan bersemangat untuk mempraktikkannya di rumah.
“Ibu-ibu merespons dengan sangat baik dan antusias. Edukasi seperti ini sangat membantu tugas kader posyandu dan sebelumnya belum pernah ada kegiatan serupa,” ujarnya.
Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan para orang tua semakin memahami perannya sebagai pemberi stimulasi utama bagi anak.
Dengan stimulasi yang konsisten dan tepat, fungsi otak anak dapat berkembang secara optimal, sehingga mendukung peningkatan kesehatan dan kualitas tumbuh kembang balita di Desa Pranan. (kwl)
Editor : Tri wahyu Cahyono