RADARSOLO.COM - Di tangan kreatif lima mahasiswa Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), limbah kulit jagung yang biasanya berakhir di tumpukan sampah kini naik kelas menjadi produk teknologi hijau.
Tim yang digawangi oleh Shyerly Fauziah Nur Rizki dan kawan-kawan berhasil menciptakan Hydrozea, sebuah hidrogel penyerap kelembapan udara yang tak hanya ramah lingkungan, tapi juga berfungsi sebagai aromaterapi.
Ide ini muncul dari kegelisahan Shyerly terhadap masalah klasik ruangan lembap yang memicu bau tak sedap serta pertumbuhan jamur yang mengganggu kesehatan pernapasan.
Selama ini, masyarakat terbiasa menggunakan silika gel sintetis untuk menjaga kekeringan udara. Namun, Shyerly menilai bahan tersebut memiliki rapor merah bagi lingkungan karena sulit terurai dan berisiko meninggalkan residu kimia berbahaya.
"Perlu adanya inovasi produk penyerap kelembapan berbahan dasar alami yang aman, biodegradable, dan mendukung prinsip green technology," ungkap Shyerly.
Kulit jagung (zea mays) dipilih bukan tanpa alasan. Tim peneliti menemukan bahwa limbah pertanian yang melimpah di wilayah Sukoharjo ini memiliki kandungan selulosa yang sangat tinggi, modal utama untuk menciptakan material penyerap air yang mumpuni.
Perjalanan melahirkan Hydrozea tidaklah instan. Selama enam minggu, tim yang beranggotakan Siti Nurazilla, Rajiv Tamim Wicaksana, Mia Oktafia, dan Rafeyfa Nadira Zakauha ini berkutat di Laboratorium Teknik Kimia UMS. Mereka memulai proses dengan mengisolasi selulosa dari kulit jagung, kemudian menyintesisnya menjadi struktur hidrogel yang stabil.
Sentuhan cerdas diberikan dengan menambahkan essential oil chamomile. Hasilnya? Hydrozea tidak hanya menyedot lembap, tetapi juga bekerja sebagai agen antiinflamasi, antibakteri, dan memberikan aroma menenangkan.
“Hidrogel ini memiliki kestabilan struktural yang tinggi dan kemampuan penyerapan kelembapan yang efektif,” tambah Siti, salah satu anggota tim.
Salah satu keunggulan utama Hydrozea adalah sifatnya yang bisa dipakai kembali (reusable). Saat hidrogel sudah jenuh atau penuh dengan air, pengguna cukup menjemurnya di bawah sinar matahari atau mengeringkannya dalam oven bersuhu rendah untuk mengembalikan fungsinya.
Inovasi ini diproyeksikan menjadi kandidat kuat Natural Air Purification (NAP) masa depan. Hydrozea membuktikan bahwa limbah pertanian di sekitar kita, jika dipadukan dengan ilmu pengetahuan, mampu menjadi solusi teknologi berkelanjutan yang menjaga kesehatan manusia sekaligus kelestarian bumi. (*/bun)
Editor : Kabun Triyatno