RADARSOLO.COM – Ketidaksesuaian struktur manuskrip dan lemahnya fondasi metodologi menjadi penghambat utama artikel ilmiah menembus publikasi bereputasi internasional. Fenomena ini dibedah tuntas dalam Workshop Academic Writing Clinic yang diselenggarakan Prodi PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Auditorium Moh. Djazman.
Wakil Dekan IV FKIP UMS Muhammad Noor Kholid mengungkapkan bahwa penolakan (rejection) oleh editor jurnal internasional seringkali bukan disebabkan oleh kualitas penelitian, melainkan kegagalan penulis dalam menunjukkan novelty (kebaruan) dan menyesuaikan gaya selingkung.
"Penulis harus mampu merumuskan judul yang spesifik dan abstrak yang kuat. Banyak artikel ditolak hanya karena strukturnya tidak sesuai dengan scope jurnal tujuan," tegas Kholid saat diwawancarai, Rabu (25/2). Menurutnya, penguasaan referensi mutakhir dan manajemen sitasi yang presisi menjadi standar minimal agar artikel dianggap layak lirik oleh jurnal bereputasi.
Senada dengan hal tersebut, Rusnilawati menekankan bahwa substansi paling krusial dalam publikasi internasional terletak pada validitas metodologi. Metodologi bukan sekadar prosedur teknis, melainkan ruh yang menentukan daya saing artikel di tingkat global.
Baca Juga: Guru Harus Terampil Computational Thinking
“Ketepatan antara rumusan masalah, desain penelitian, hingga teknik analisis data adalah penentu kredibilitas. Tanpa metodologi yang transparan dan konsisten, artikel tidak akan memiliki daya tawar pada prosiding AIP Scopus maupun jurnal bereputasi,” jelas Rusnilawati.
Ia menambahkan bahwa standar publikasi internasional menuntut kontribusi ilmiah yang jelas. Oleh karena itu, mahasiswa semester 6 yang mengikuti kegiatan ini dibekali pemahaman tentang transparansi prosedur agar karya mereka tidak hanya berhenti sebagai tugas akhir, tetapi menjadi rujukan ilmiah yang diakui dunia.
Baca Juga: BSN Mulai Masuk Kampus, Kolaborasi Bangun Literasi Keuangan Syariah Melalui Dunia Pendidikan
Melalui integrasi strategi praktis dan penguatan konseptual ini, PGSD UMS berupaya memutus mata rantai kesulitan publikasi mahasiswa dan membangun ekosistem riset yang kompetitif sejak dini. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno