Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Program Kerja KKN-T UNS 2026 Edukasi dan Praktik Pengendalian Hama serta Aplikasi Bakteri Akar (PGPR) di Desa Suroteleng Untuk Pertanian Berkelanjutan

Nur Pramudito • Kamis, 12 Maret 2026 | 12:55 WIB

 

Program Kerja KKN-T UNS 2026 Edukasi dan Praktik Pengendalian Hama serta Aplikasi Bakteri Akar (PGPR) di Desa Suroteleng Untuk Pertanian Berkelanjutan
Program Kerja KKN-T UNS 2026 Edukasi dan Praktik Pengendalian Hama serta Aplikasi Bakteri Akar (PGPR) di Desa Suroteleng Untuk Pertanian Berkelanjutan

RADARSOLO.COM -  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kelompok 14, Universitas Sebelas Maret Surakarta resmi melaksanakan program kerja sosialisasi dan praktik pengendalian hama serta aplikasi bakteri akar PGPR di Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

Kegiatan menjadi salah satu rangkaian program kerja Kelompok 14 KKN-T UNS 2026 yang telah berlangsung pada Januari 2026.

Photo
Photo

Kegiatan ini dihadiri oleh Masyarakat Desa Suroteleng, Perangkat Desa, Gabungan Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani.

Selain itu kami juga bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali untuk menjadi arasumber dalam kegiatan program kerja ini.

Photo
Photo

Acara dibuka secara resmi oleh perwakilan BPP Selo yang dalam pidatonya menekankan betapa pentingnya kerjasama antara petani, penyuluh, dan pemerintah desa untuk mengatasi masalah hama dan penyakit pada tanaman.

Rangkaian acara dimulai dengan penyampaian informasi tentang berbagai jenis hama dan penyakit utama yang menyerang tanaman hortikultura di Desa Suroteleng, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang cara mengendalikan tikus, mengatasi Monyet Ekor Panjang (MEP), serta langkah-langkah untuk mencegah dan menangani penyakit akar gada.

Penjelasan materi dilakukan dengan bantuan media presentasi dan studi kasus yang umum terjadi di area pertanian setempat, sehingga peserta dapat memahami dengan lebih baik.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi penjelasan terkait pengertian, kegunaan, dan manfaat dari PGPR.

Lalu dilanjutkan dengan penjelasan terkait bahan dan alat yang dibutuhkan dalam membuat PGPR, dijelaskan juga terkait fungsi-fungsi akar yang sudah dipilih.

Kegiatan berlanjut dengan pembuatan PGPR nya, yaitu dengan mencampurkan semua bahan yang sudah ada.

Photo
Photo

Kehadiran masyarakat ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap masalah pertanian di daerah tersebut.

Interaksi peserta dengan BPP menjadi sorotan utama kegiatan, dimana banyak petani yang bertanya dan tertarik selam proses kegiatan.

Hasil dari kegiatan penyuluhan menunjukkan dampak yang positif dalam hal peningkatan pengetahuan, keterampilan teknis, dan kesepakatan bersama dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Para peserta dapat mengenali ciri-ciri morfologi tikus, pola reproduksi (masa kehamilan sekitar 21 hari dengan rata-rata melahirkan 13 anak), serta potensi perkembangbiakan yang sangat cepat jika tidak ada upaya pengendalian.

Para petani juga memahami metode pengendalian yang lebih ramah lingkungan serta rencana untuk membuat rodentisida organik secara mandiri melalui kelompok tani.

Para petani juga memahami metode pengendalian yang lebih ramah lingkungan serta rencana untuk membuat rodentisida organik secara mandiri melalui kelompok tani.

Dari pelaksanaan program praktik pembuatan PGPR, banyak warga dan petani yang meminta keberlanjutan kegiatan ini, dikarenakan mereka ingin benar-benar mencoba dan memberikan hasil yang mereka dapatkan setelah mengaplikasikan PGPR.

Hasil utama dari kegiatan ini yaitu, banyak yang ingin langsung mempraktekkan pembuatan PGPR ini dirumah masing-masing.

Dengan begitu, akhirnya petani dapat secara mandiri membuat PGPR untuk mengatasi hama dan penyakit pada tanaman, tanpa harus bergantung pada bahan kimia yang dapat merusak tanak.

Rekomendasi dari kegiatan ini difokuskan pada keberlanjutan program.

Photo
Photo

Kegiatan Program kerja ini memiliki rangkaian yang cukup singkat namun memberikan dampak yang nyata, yang dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2026.

Kelompok 14 KKN-T UNS 2026, suatu kelompok petani mulai sadar akan pertanian yang ada di Desa Suroteleng, mereka bekerja sama dalam mengatasi hama dan penyakit yang ada di Desa Suroteleng dengan melakukan praktek pembuatan PGPR.

pada pelatihan ini masyrakat memperoleh ilmu seperti bagaimana cara mengatasi hama dan penyakit juga mendapatkan pengalaman secara langsung praktek pembuatan PGPR.

”Kegiatan ini merupakan langkah awal yang baik untuk menuju Desa Suroteleng dalam menghadapi hama dan penyakit yang menyerang tanaman yang ada, yang nantinya harapan saya masyarakat disini bisa menjadi awal untuk menuju pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.”(*)

Editor : Nur Pramudito
#Edukasi dan Praktik #Boyolali #pengendalian hama #Aplikasi PGPR #selo #Program Kerja KKN