RADARSOLO.COM – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi batalkan rencana penerapan kembali pembelajaran daring.
Keputusan ini mendapat respons beragam, salah satunya dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo.
Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno menegaskan, pembelajaran klasikal atau tatap muka sebaiknya tetap menjadi prioritas.
Menurutnya, tingkat pemahaman materi pelajaran cenderung lebih tinggi dibandingkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).
“Saya pikir, memang sebaiknya tetap diprioritaskan metode pembelajaran klasika. Karena peluang keberhasilannya lebih besar dibandingkan pembelajaran daring,” kata Dwi, Rabu (25/3).
Dwi berkaca PJJ selama pandemi Covid-19 lalu.
Saat itu, kesiapan siswa dan guru dalam menjalankan PJJ sangat beragam. Sehingga berpengaruh langsung terhadap kualitas hasil pendidikan.
Menurut Dwi, jika tujuan kebijakan adalah untuk mengantisipasi kondisi global seperti efisiensi anggaran dan penghematan energi, masih banyak alternatif lain yang bisa diterapkan.
“Pengalaman Covid-19 menunjukkan, bahwa kesiapan siswa dan guru sangat menentukan. Metode yang dipilih sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil pendidikan,” imbuhnya.
Setali tiga uang, pakar pendidikan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Joko Nurkamto menilai, pembatalan wacana PJJ merupakan langkah tepat.
Ia menekankan pentingnya interaksi langsung antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
“Dengan pembelajaran tatap muka, interaksi antara guru dan murid menjadi lebih efektif,” jelasnya.
Namun, Joko juga mendorong agar momentum ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pendekatan lebih mendalam (deep learning).
Menurutnya, pembelajaran yang baik adalah ketika peserta didik secara sadar dan tulus memahami makna belajar dalam kehidupan.
“Pembelajaran yang bagus itu ketika anak-anak merasa dengan sadar bahwa mereka belajar. Ada kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya ilmu dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, agar potensi siswa dapat berkembang maksimal serta meminimalkan learning loss.
Sebab selama ini, kurangnya pendekatan diduga menjadi salah satu penyebab belum optimalnya kemampuan peserta didik.
Dalam konsep pendidikan modern, lanjut Joko, peserta didik memiliki tanggung jawab utama dalam proses belajar.
Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
“Tugas lembaga adalah memastikan fasilitas tersedia. Sehingga guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang lebih baik dan efektif,” tegasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto