RADARSOLO.COM - Penggunaan kayu secara berlebihan memicu deforestasi dan pembalakan liar. Padahal, ini salah satu penyebab bencana banjir hingga tanah longsor.
Menekan aksi perusakan lingkungan tersebut, mahasiswa dari dua kampus di Solo membuat Biosil dari limbah cangkang telur dan abu sekam.
Berawal dari kepedulian terhadap tingginya deforestasi di Indonesia, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Negeri Surakarta (UNS) menghadirkan inovasi ramah lingkungan. Namanya Biosil.
Produk ini merupakan material alternatif pengganti kayu. Dibuat dari limbah organik, yakni abu sekam dan cangkang telur sisa limbah program makan bergizi gratis (MBG).
Gagasan ini berangkat dari realita kerusakan hutan yang kian mengkhawatirkan di Sumatera. Kondisi tersebut menunjukkan semakin terbukanya kawasan hutan akibat deforestasi.
“Hasil riset lapangan, kami temukan limbah abu sekam dari industri batu bata. Hanya ditimbun dan belum dimanfaatkan. Begitu juga cangkang telur dari program MBG,” ujar ketua tim pembuat Biosil Muhammad Rafif Pratama.
Tim yang digawangi Aura Kalbu Darsono (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMS), Yuanda Eka Saputra (Pendidikan Teknik Informatika UMS), Sheala Aditva Kusuma Mukti, Muhammad Daffa Alhafidl (Teknik Sipil UMS), serta Muhammad Nabil Lazuardi (Pendidikan Teknik Bangunan UNS) ini lalu mengembangkan Biosil.
Mereka berupaya ikut andil dalam menekan pembalakan liar, dengan mengembangkan solusi berbasis ekonomi sirkular. Berupa pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna.
Proses pengembangan Biosil dimulai sejak akhir November 2025, dalam bentuk ide dan kajian ilmiah. Sedangkan prototipe Biosil diproduksi di laboratorium Teknik Sipil UMS pada Januari.
“Selama pembuatan, tim mengalami berbagai tantangan. Mulai dari kesalahan komposisi, hingga tekstur bahan yang belum sesuai. Berbagai percobaan kami lakukan selama kurang lebih dua bulan. Hingga akhirnya menghasilkan sampel berbentuk balok yang menyerupai kayu," jelas Rafif.
Secara komposisi, Biosil terdiri dari 42 persen abu sekam yang dimanfaatkan kandungan silikanya, 30 persen cangkang telur sebagai pengganti agregat, serta 18 persen biopolimer sebagai bahan perekat.
“Abu sekam terlebih dahulu disaring hingga tingkat 200 saringan dan dimanfaatkan silikanya, sementara cangkang telur dihaluskan tidak terlalu lembut, agar tetap berfungsi sebagai penguat struktur," bebernya.
Setelah seluruh bahan dicampur, adonan kemudian dicetak dan dikeringkan selama 24 jam. Setelah mengeras, material akan memiliki tekstur padat menyerupai kayu.
“Hasilnya cukup memuaskan. Secara visual menyerupai kayu dan cukup padat. Kami juga telah melakukan uji kekuatan dan ketahanan dengan bantuan dosen pembimbing,” jelas Rafif.
Meski demikian, Biosil masih dalam tahap prototipe berbentuk balok. Namun ke depan, Rafif dkk berharap material ini dapat dikembangkan menjadi berbagai produk furnitur sebagai pengganti kayu.
Baca Juga: Ada Temuan Guru Madrasah Tak Sanggup Bayar Pendidikan Anak, Kemenang Cari Formulasi Pemihakan
"Selain lebih ramah lingkungan, biaya produksinya juga dinilai lebih murah karena kami memanfaatkan limbah,” ujarnya.
Mendukung ekosistem inovasi ini, Rafif dkk tengah mengembangkan platform berbasis website dengan bantuan coding dan kecerdasan buatan (AI). Platform ini dirancang untuk mempertemukan masyarakat sebagai penyedia limbah, dengan pihak yang membutuhkan bahan baku Biosil.
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Biosil berhasil meraih medali perunggu ajang Annual International Science and Engineering Fair (AISEEF) 2026 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, belum lama ini.
Ke depan, Rafif dan tim berkomitmen untuk terus mengembangkan Biosil hingga siap diproduksi masal dan dipasarkan.
“Harapan kami, Biosil bisa memberikan dampak nyata dalam mengurangi deforestasi, sekaligus solusi pengelolaan limbah lokal yang berkelanjutan,” tandasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto