RADARSOLO.COM - Suasana di hari pertama sekolah stelah libur Lebaran 2026, kemarin (30/3) terasa berbeda di SLBN Surakarta.
Ratusan siswa, guru, hingga orang tua murid memenuhi halaman sekolah untuk halal bihalal.
Dalam momen hangat dan penuh kebersamaan tersebut, Wakil Kepala SLBN Surakarta Musowir menyampaikan, kegiatan tersebut bagian dari rangkaian semarak Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sekaligus penutupan program Pesantren Ramadan yang telah dilaksanakan sebelum Lebaran.
“Hari ini kami melakukan halal bihalal dengan murid dan orang tua yang selama ini mendampingi mereka. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari visi misi sekolah, yakni membentuk akhlak mulia agar anak-anak bisa menghormati orang tua, guru, dan teman-temannya,” ujarnya.
Musowir menjelaskan, nilai utama yang ingin ditanamkan adalah sikap saling memaafkan, kasih sayang, serta membangun hubungan yang harmonis tanpa adanya pertengkaran maupun perundungan (bullying).
Baca Juga: Konsep Dasar Pendidikan Islam Dalam Perspektif Alquran, Harus Rasional dan Penuh Kelembutan
Sebelum prosesi bersalaman, pihak sekolah terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada siswa terkait makna halal bihalal.
Mulai dari landasan saling memaafkan, tata cara bersikap kepada sesama, hingga praktik langsung bersalaman dengan guru, orang tua, maupun teman.
“Kami jelaskan makna pemaaf-maafan itu apa, tuntunannya bagaimana, termasuk teknik bersalaman dengan lawan jenis, guru, dan orang tua. Setelah itu baru dipraktikkan bersama,” jelasnya.
Musowir menambahkan, siswa di SLBN Surakarta terdiri dari lima kelompok kebutuhan khusus, yakni hambatan penglihatan, pendengaran, intelektual, fisik, dan autisme.
Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran nilai-nilai sosial dan akhlak dilakukan secara intensif. Upaya tersebut dinilai efektif dalam membangun kebersamaan sekaligus mencegah konflik antar siswa.
Ia mengaku, sebelumnya sempat terjadi pertengkaran yang dipicu rasa emosi dan dendam antar siswa. Namun kini, kejadian serupa sudah jarang ditemukan.
“Kami mengintensifkan kegiatan anti-bullying dan pembinaan akhlak. Alhamdulillah sekarang sudah sangat jarang terjadi pertengkaran, bahkan anak-anak mulai saling membantu,” katanya.
Sementara itu, salah satu siswa kelas VII dengan hambatan fisik yang menggunakan kursi roda Rahmat Hidayat mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.
“Jadi tahu banyak teman dari kelas lain. Tadi juga ada yang bantu dorong kursi roda, jadi semakin akrab,” ujarnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto