RADARSOLO.COM - Kota Solo selain kota seni dan budaya, juga dikenal sebagai sentra kerajinan batik.
Lebih tepatnya di Kampung Batik Laweyan dan Kauman. Sayangnya, belum semua perajin batik memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Inilah yang melandasi tim dari SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo membuat Vita-Strand, alat pengolah limbah cair.
Inovasi Vita-Strand dibuat dengan memanfaatkan limbah rambut sebagai media biofilter. Fungsinya untuk menyerap logam berat dan zat pencemar.
Ketua tim Realga Putra Yusuf menjelaskan, ide tersebut dirancang sejak medio Januari. Proses riset dilakukan selama sebulan, dengan melibatkan observasi langsung ke perajin batik dan warga sekitar.
Baca Juga: Inovasi KKN UNS, Sulap Limbah Sabut Kelapa Jadi Cocodama: Solusi Lahan Sempit di Desa Kaliabu
Setelah riset, tim mulai merancang desain dan menyiapkan bahan pada medio Maret. Dilanjutkan pembuatan dan pengujian alat menggunakan dua prototipe berbeda.
“Setelah itu kami uji coba berkali-kali, bahkan dengan dua prototipe yang berbeda. Itu dilakukan hingga lomba pelaksanaan Krenova Solo 2026,” jelas Realga.
Realga menambahkan, Vita-Strand bekerja melalui beberapa tahapan. Dimulai dari penampungan limbah cair batik. Dilanjutkan proses filtrasi mekanik menggunakan berbagai media seperti kapas filter, rambut, pasir malang, bioball, pasir silika, zeolit, dan karbon aktif. Lalu filtrasi lanjutan dan adsorpsi untuk mengurangi warna, zat kimia, serta kandungan logam berat.
“Hasil akhirnya berupa air yang lebih jernih dan aman, sehingga dapat digunakan kembali dalam proses produksi atau dibuang ke lingkungan. Risiko pencemaran lebih rendah,” imbuhnya.
Menurut Realga, tantangan terbesar dalam pengembangan inovasi ini terletak pada proses riset dan pembuatan alat. “Waktu riset lumayan mepet dan memerlukan banyak kesabaran. Lalu terkait alatnya yang gagal berkali-kali,” ujarnya.
Selama riset, tim harus menemukan hipotesis yang dapat diuji secara ilmiah. Selain itu, juga memastikan data yang diperoleh valid melalui wawancara, observasi, dan pengambilan sampel langsung dari pelaku industri batik.
Masuk tahap perancangan alat, tim banyak menghadapi kendala. Sebab belum banyak inovasi serupa yang bisa dijadikan acuan.
Baca Juga: 154 Wisudawan UTP Siap Berkontribusi Untuk Pembangunan Bangsa
“Kami benar-benar merancang dan mendesain dari awal. Dalam periode itu, banyak sekali kegagalan hingga akhirnya kami menciptakan alat yang memenuhi target,” bebernya.
Inovasi ini mampu memberikan sejumlah dampak positif. Di antaranya mengurangi kadar pencemar pada limbah batik, memanfaatkan limbah rambut menjadi bahan bernilai guna, serta menjaga kelestarian lingkungan perairan.
“Selama proses pengembangan, kami juga kunjungan dan mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Di antaranya Batik Graha Cempaka Putih, Forum Kampoeng Batik Laweyan, serta Batik Mahkota Laweyan,” jelasnya.
Tim inovator yang tergabung dalam Lek Punakaiwan Project (LPP) ini beranggotakan Muhammad Faiq Alhusaini, Muhammad Ihsan Ramadhan, dan Realga Putra Yusuf sebagai ketua. Atas inovasi tersebut, mereka meraih juara III Krenova Solo 2026 yang digelar di Solo Technopark, belum lama ini. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto