RADARSOLO.COM – Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK-Tekstil Solo) bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar sosialisasi program beasiswa pendidikan bagi warga Kota Solo, Selasa (21/4/2026).
Program ini menjadi salah satu upaya konkret untuk meningkatkan akses pendidikan vokasi sekaligus menekan angka pengangguran di Kota Bengawan.
Melalui program tersebut, Pemkot Solo menargetkan pemberian 100 beasiswa gratis bagi masyarakat ber-KTP Solo. Beasiswa ini secara khusus menyasar kelompok masyarakat kategori P1 dan P2 yang masuk dalam data penerima manfaat Dinas Sosial.
Kegiatan sosialisasi dihadiri seluruh camat dan lurah se-Kota Solo. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi hingga tingkat kelurahan, sehingga program ini bisa tepat sasaran dan lebih dikenal masyarakat.
Kepala Bidang Perindustrian Dinkopukmperin Kota Solo Reynata Milya mengungkapkan, potensi penerima manfaat program ini cukup besar. Berdasarkan data Dinas Sosial, terdapat sekira 4.000 warga usia 18–25 tahun dalam kategori P1 dan P2.
Namun, hingga saat ini jumlah pendaftar masih sangat minim. Reynata menyebut baru sekitar 15 orang yang mendaftar, sehingga diperlukan upaya lebih masif dalam sosialisasi program tersebut.
Dia menilai rendahnya angka pendaftar bukan karena kurangnya minat masyarakat. Menurutnya, faktor utama justru karena masih banyak warga yang belum mengetahui adanya program beasiswa tersebut.
"Hari ini, jadi kalau kami sandingkan dengan dinas sosial, karena yang memiliki data penerima manfaat kategori P1, P2 itu ada di Dinas Sosial, ketika kami koordinasi dengan dinas sosial itu kalau kita tanya rentang usia 18-25 tahun warga kota Solo yang kategori P1, P2 itu kita lihat kurang lebih sebanyak empat ribu," ujarnya kepada media, Selasa (21/4/2026).
"Jadi sebenarnya masih banyak tapi kenapa yang mendaftar masih 15. Kami berharap mungkin ini karena bukan mereka tidak mau, tidak berminat tapi lebih karena mereka mungkin belum tahu," imbuhnya.
Dia menilai rendahnya angka pendaftar bukan karena kurangnya minat masyarakat. Menurutnya, faktor utama justru karena masih banyak warga yang belum mengetahui adanya program beasiswa tersebut.
Berbagai upaya sosialisasi sebenarnya telah dilakukan, mulai dari penyebaran poster, video ajakan dari Wali Kota, hingga distribusi informasi melalui media sosial dan grup WhatsApp. Meski begitu, respons masyarakat dinilai belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Reynata menjelaskan bahwa beasiswa tersebut mencakup biaya pendaftaran hingga biaya kuliah sampai lulus. Program pendidikan di AK-Tekstil sendiri merupakan jenjang Diploma 2 dengan masa studi selama empat semester atau dua tahun.
Meski demikian, untuk saat ini pembiayaan masih terbatas pada biaya akademik. Pemerintah belum dapat mengakomodasi kebutuhan lain seperti biaya hidup, uang saku, maupun tempat tinggal bagi mahasiswa.
"Tapi memang untuk saat ini kita baru bisa memfasilitasi hanya biaya kuliahnya saja, kita belum ada untuk kegiatan, untuk anggaran misalnya. Kos ataupun uang saku, karena kita berpikirnya tadinya ini kan warga kota Surakarta, pasti rumahnya juga di Kota Solo," jelasnya.
Sementara itu, Direktur AK-Tekstil Wawan Ardi Subakdo menyebut, pihaknya turut menggandeng fasilitator Program Keluarga Harapan (PKH) dalam sosialisasi program. Langkah ini dinilai efektif karena sasaran program cukup spesifik.
"Kita memfasilitasi teman-teman dari pemerintah kota, jadi ada fasilitator PKH, karena ini programnya memang ditujukan untuk masyarakat P1 dan P2 yang datanya ada di mereka," ujarnya.
Menurut Wawan, pendekatan melalui fasilitator PKH akan mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat. Dibandingkan turun langsung, cara ini dinilai lebih efisien dan tepat sasaran.
Selain itu, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung keberlanjutan program beasiswa. Salah satunya melalui skema CSR perusahaan dan kolaborasi dengan perbankan.
"Kita sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan dan juga perbankan seperti BSI untuk pembiayaan. Karena sebelumnya beasiswa full dari negara, sekarang kita coba libatkan pihak ketiga melalui CSR," jelasnya.
Wawan menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah meningkatkan keterserapan tenaga kerja dari warga Solo. Ia menyebut kebutuhan tenaga kerja di industri tekstil masih sangat tinggi.
"Kebutuhan kita selalu di atas 300, sedangkan kapasitas maksimum kita hanya 250. Jadi sayang kalau warga Solo tidak memanfaatkan peluang ini," tegasnya.
Dia juga mendorong perubahan persepsi masyarakat terhadap industri tekstil. Menurutnya, sektor ini masih memiliki prospek besar dan mampu menjadi solusi pengentasan pengangguran.
"Minimal kita arahkan bukan hanya sebagai operator, tapi bisa sampai kepala regu. Ini peluang besar untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan," tandasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy