Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kartini di Negeri Jiran: PRT Migran Menulis untuk Kerja Layak dan Martabat

Niko auglandy • Selasa, 21 April 2026 | 19:13 WIB

 

KOMPAK: Komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam KOMANDO45 Taylor’s University sebagai mentor muda dalam sesi pendampingan menulis. (ISTIMEWA)
KOMPAK: Komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam KOMANDO45 Taylor’s University sebagai mentor muda dalam sesi pendampingan menulis. (ISTIMEWA)

RADARSOLO.COM - Perempuan pekerja rumah tangga migran Indonesia di Malaysia kembali menegaskan makna perjuangan Kartini masa kini: berjuang melawan diskriminasi, kekerasan, dan kerja tidak layak, sekaligus merawat harapan melalui kata dan karya tulis kreatif.

Video: https://www.youtube.com/watch?v=IcPIVSw6yRY 

Backlink: https://psikologi.uns.ac.id/berita/detail/fakultas-psikologi-uns-melakukan-pengabdian-internasional-di-malaysia#gsc.tab=0 

Kartini Masa Kini di Rumah Tangga Migran

Spirit emansipasi Kartini hari ini hidup dalam sosok-sosok perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga migran di luar negeri, termasuk Malaysia. Mereka menghadapi jam kerja panjang, isolasi sosial, hingga gaji yang tak selalu dibayar, namun tetap bertahan demi keluarga di tanah air.

Lebih dari 100.000 pekerja rumah tangga migran Indonesia diperkirakan bekerja di Malaysia, mayoritas perempuan, dengan sebagian masih berhadapan dengan eksploitasi dan pelanggaran hak dasar. Di tengah situasi itu, kemampuan bercerita dan menulis menjadi ruang aman untuk bersuara, memproses trauma, dan mengubah pengalaman personal menjadi advokasi publik yang menyentuh hati.

Program Pengabdian Internasional di Malaysia

Menjawab kompleksitas persoalan tersebut, tim lintas disiplin Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar program internasional bertajuk “Pemberdayaan Pekerja Rumah Tangga Migran Indonesia Melalui Advokasi Berbasis Gender dan Menulis Kreatif Berkelanjutan di Malaysia”.

Kegiatan pengabdian internasional ini berlangsung dari Januari hingga Juni 2026 di Kuala Lumpur dan Solo. Menggandeng Taylors University Malaysia dan Persatuan Pekerja Rumah Tangga Indonesia Migran (PERTIMIG). Program ini terselenggara melalui dukungan Hibah Community Development Program EQUITY The Impact Rankings 2025 dari Universitas Sebelas Maret (UNS), yang didanai oleh skema KEMENDIKTI–SAINTEK–LPDP.

Program dipimpin Dr. Andrian Liem dari Fakultas Psikologi dan Pusat Penelitian Kependudukan dan Gender (PPKG) UNS, bersama tim dosen dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Budaya, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS. Kegiatan menyasar anggota PERTIMIG sebagai peserta utama serta melibatkan komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam KOMANDO45 Taylor’s University sebagai mentor muda dalam sesi pendampingan menulis.

Workshop Gender, Kesehatan Mental, dan Menulis Kreatif

Rangkaian kegiatan dirancang dengan pendekatan partisipatif melalui tiga komponen utama: workshop advokasi berbasis gender, penguatan kesehatan mental dan psikososial, serta pelatihan menulis kreatif untuk advokasi. Dalam sesi advokasi gender, peserta diajak memahami kerentanan ganda sebagai perempuan, pekerja migran, dan pekerja sektor domestik, sekaligus mengenali hak-hak mereka berdasarkan standar internasional seperti Konvensi ILO 189 dan 190.

Sesi kesehatan mental memberikan peserta pengetahuan praktis tentang stres, depresi, dan strategi koping sederhana yang dapat diterapkan di tengah rutinitas kerja, seperti teknik pernapasan dan relaksasi otot. Pada sesi menulis kreatif “Menulis untuk Mengubah”, pekerja rumah tangga migran diajak mengolah pengalaman hidup, dari rasa rindu hingga pengalaman ketidakadilan, menjadi cerpen, puisi, esai, dan narasi inspiratif yang dapat menjadi alat kampanye publik.

Sastra sebagai Alat Advokasi dan Pemulihan

Menulis kreatif dalam program ini tidak hanya diposisikan sebagai keterampilan estetis, tetapi sebagai medium advokasi dan katarsis psikologis bagi para pekerja rumah tangga migran. Berbagai kajian yang menjadi rujukan tim menunjukkan bahwa expressive writing efektif menurunkan gejala kecemasan, depresi, dan membantu pemulihan pasca trauma, termasuk pada populasi migran yang hidup di bawah tekanan berlapis.

Melalui digital storytelling dan penggunaan platform daring, narasi-narasi personal para pekerja rumah tangga migran akan diangkat sebagai cerita humanis yang menantang stigma dan narasi dominan yang kerap merendahkan martabat mereka. Saat ini, cerita-cerita pendek yang dihasilkan dalam workshop bulan Februari sedang melalui proses penyuntingan intensif oleh tim pendamping dan peserta, sebagai bagian dari pendalaman pesan dan penguatan suara para pekerja.

Karya-karya tersebut akan dihimpun dalam antologi yang ditargetkan terbit dan diluncurkan pada 16 Juni, bertepatan dengan peringatan International Domestic Workers Day. Momen ini diharapkan menjadi panggung simbolik sekaligus politis untuk menegaskan kontribusi pekerja rumah tangga migran Indonesia dan menyoroti pentingnya kerja layak, perlindungan hukum, serta dukungan kesehatan mental bagi mereka.

Kolaborasi Lintas Negara dan Agenda Keberlanjutan

Program pengabdian internasional ini selaras dengan komitmen pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan Global untuk Pembangunan Berkelanjutan. Taylors University yang memiliki rekam jejak kuat di bidang keberlanjutan dan pendidikan lintas budaya berperan sebagai mitra akademik internasional, sementara PERTIMIG menjadi jangkar komunitas yang memastikan program relevan dengan kebutuhan riil pekerja rumah tangga migran.

Mahasiswa KOMANDO45 ikut dilatih dalam kesehatan mental, advokasi berbasis gender, dan menulis kreatif, lalu mendampingi peserta sebagai mentor literasi dan fasilitator advokasi digital. Pasca workshop tatap muka, pendampingan menulis berlanjut secara daring selama tiga bulan, disertai rencana pelatihan peer educator, penyusunan policy brief bagi pemangku kebijakan, serta replikasi program ke komunitas pekerja migran Indonesia di negara lain seperti Singapura, Hong Kong, dan Taiwan.

Dalam konteks peringatan Hari Kartini dan International Domestic Workers Day, program ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan hari ini tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau parlemen, tetapi juga di dapur rumah tangga migran dan di halaman-halaman karya sastra yang lahir dari pengalaman mereka sendiri. (*)

Andrian Liem

Fakultas Psikologi UNS

 

 

Editor : Niko auglandy
#malaysia #un #Menular #program #pendidik