Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sambangi UMS, Wakil Ketua MPR RI Soroti Paradoks Energi dan Krisis Iklim

Alfida Nurcholisah • Rabu, 29 April 2026 | 16:44 WIB
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Eddy Soeparno saat mengisi . (Dok. Humas UMS)
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Eddy Soeparno saat mengisi MPR RI Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (28/4). (Dok. Humas UMS)

 RADARSOLO.COM - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Eddy Soeparno menyoroti paradoks energi dan ancaman krisis iklim, dalam kegiatan MPR RI Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (28/4).

Dalam pemaparan bertajuk “Dilema Paradoks Energi dan Penanganan Krisis Iklim di Indonesia” yang digelar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Eddy menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar isu yang dilebih-lebihkan, melainkan realitas global yang berdampak nyata.

“Dampak krisis iklim bersifat disruptif dan setara dengan disrupsi akibat pandemi, perkembangan kecerdasan buatan, serta dinamika geopolitik global,” ujarnya.

Eddy menjelaskan, suhu global telah meningkat lebih dari 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri. Dampaknya juga dirasakan di Indonesia, mulai dari suhu ekstrem, polusi udara, deforestasi, hingga meningkatnya bencana alam seperti banjir dan longsor.

Baca Juga: Unik dan Kreatif! Fashion Show Anak-Anak PAUD Di Solo Kenakan Busana Daur Ulang Limbah Plastik

Selain itu, Eddy menyoroti persoalan sampah nasional yang mencapai sekitar 52 juta ton per tahun dan belum seluruhnya terkelola dengan baik. Sebagai langkah penanganan, pemerintah mendorong kebijakan waste to energy melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2025 untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi.

Namun demikian, ia menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam transisi energi. Di satu sisi, pemanfaatan energi terbarukan mulai meningkat, tetapi di sisi lain ketergantungan terhadap energi fosil, seperti batu bara, masih tinggi.

Baca Juga: Hasil Tryout TKA Di Solo Keluar, Ini Daftar 10 Besar SD dan SMP

“Di sinilah letak paradoks energi kita. Indonesia kaya sumber daya energi, tetapi masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan tertentu,” jelasnya.

Menurutnya, potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, diperlukan penguatan regulasi, peningkatan investasi, serta kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan sistem energi yang berkelanjutan dan berketahanan.

Sementara itu, salah satu peserta Aditya Dwi Cahyo mengaku, mendapatkan wawasan baru terkait urgensi transisi energi. Mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2024 tersebut menilai perubahan iklim sudah menunjukkan dampak yang signifikan.

Eddy juga menyoroti dilema Indonesia sebagai produsen batu bara di tengah tuntutan global menuju energi bersih. Menurutnya, penurunan permintaan batu bara berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional.

Menanggapi hal tersebut, Eddy menyatakan bahwa transisi energi dapat dilakukan secara bertahap dan seimbang, termasuk dengan mengurangi penggunaan batu bara untuk kebutuhan domestik.

Aditya juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi lingkungan di Kalimantan yang semakin tertekan akibat aktivitas pertambangan. Ia menilai kegiatan ini penting untuk membuka kesadaran mahasiswa terhadap kondisi iklim saat ini.

“Menarik dan membuka mata mahasiswa tentang kondisi iklim sekarang ini,” ujarnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#mpri ri goes to campus #Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno #universitas muhammadiyah surakarta #UMS