RADARSOLO.COM - Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) terus berkomitmen dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan.
Fokus pada pemberdayaan masyarakat dan peningkatan potensi desa untuk mendukung pengembangan pariwisata lokal.
Diwujudkan melalui pelaksanaan program Equity-UNNES Global Fellow dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Sinergi Kolaborasi Penguatan Eco Culture Tourism di Desa Wisata Cokro melalui Penguatan Pentahelix.
Berlangsung di Joglo Latar Tjokro, Desa Cokro, Kecamatan Tulung, Klaten pada Rabu (29/4/2026).
Sekaligus menjadi ajang diseminasi dan evaluasi atas pendampingan yang telah dilakukan UNNES selama dua tahun terakhir di Desa Cokro.
Dihadiri oleh berbagai pihak, Mulai dari akademisi, perwakilan kementerian, dinas provinsi dan kabupaten. Termasuk perangkat desa serta pengurus BUMDes Tirta Kencana.
Kegiatan tersebut didukung oleh UNNES melalui program EQUITY DAPT yang didanai oleh LPDP Indonesia di bawah Kontrak No. 4311/B3/DT.03.08/2025 dan No. T/15487/UN37/PR.00.02/2025.
Kepala Pusat Pengembangan KKN LPPM UNNES Edi Kurniawan menjelaskan bahwa selama dua tahun pendampingan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pemberdayaan.
Mulai dari penyiapan destinasi, pengurusan SK Desa Wisata hingga standardisasi layanan.
"Harapannya ke depan Desa Cokro menjadi desa wisata yang maju dan dikenal luas, yang muaranya mensejahterakan masyarakat. Cokro punya potensi luar biasa mulai dari mata air, sungai, hingga eduwisata seperti penetasan telur bebek, gamelan, dan kerajinan janur," ujar Edi.
Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa pada tahun ketiga, fokus akan diarahkan pada pengelolaan manajemen dan pengembangan homestay.
Di sisi lain, kegiatan pendampingan yang dilakukan UNNES selama dua tahun terakhir tersebut tidak hanya sekadar pengembangan pariwisata.
Tetapi juga merupakan langkah konkret dalam mendukung agenda global berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Di antaranya Pelaksanaan FGD dan pendampingan lapangan berperan besar dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Terkait pengelolaan desa wisata, prinsip konservasi dan pemberdayaan berbasis pengetahuan dari bagian SDG 4 Quality Education.
Sesuai dengan SDG 11-Sustainable Cities and Communities, program yang berjalan mendukung terwujudnya Desa Cokro sebagai desa wisata berkelanjutan.
Mampu menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan pelestarian lingkungan serta budaya lokal.
Kaitannya SDG 16 – Peace, Justice and Strong Institutions, UNNES mendorong tata kelola desa yang transparan dan akuntabel.
Melalui fasilitasi penyusunan SK Desa Wisata serta penguatan kelembagaan antara Pokdarwis dan BUMDes.
Terakhir, mengenai SDG 17 – Partnership for the Goals, melalui model pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, komunitas, pebisnis, dan media.
Diharapkan tercipta kemitraan strategis untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.
Apresiasi datang dari perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Oneng Setya Harini.
Menurutnya, langkah UNNES sangat sejalan dengan program prioritas nasional yang kini telah masuk dalam undang-undang kepariwisataan terbaru.
"Kami sangat mengapresiasi komitmen UNNES. Dalam dua tahun, perkembangannya luar biasa. Atraksi di sini sangat potensial. Meski ada catatan untuk peningkatan kualitas amenitas seperti pengelolaan sampah dan standar toilet. Namun sinergi antara pengelola dan komunitas seni di sini sudah sangat menyatu," ungkap Oneng.
Senada dengan hal tersebut, Cahyo Nugroho dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah menekankan pentingnya keselarasan regulasi.
Ia menyebutkan kehadiran Perda Nomor 15 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan menjadi payung hukum agar pendampingan kampus dan aktivitas riil di lapangan berjalan sinkron.
Kabid Pariwisata Disbudporapar Klaten, Dwi Murwanti menambahkan tantangan masa depan terkait digital marketing dan pengalaman wisatawan.
"Wisatawan harus pulang membawa pengalaman berbeda. Kami juga sedang fokus pada sertifikasi kompetensi SDM agar keamanan dan kenyamanan terjaga,” ujar Dwi.
Tantangan lainnya adalah ketersediaan transportasi publik bagi wisatawan mandiri. Termasuk pengelolaan sampah melalui pemberdayaan TPS 3R.
Kepala Desa Cokro Heru Budi Santosa menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan UNNES dan dinas terkait telah memberikan dampak nyata bagi Pendapatan Asli Desa (PAD) dan mendukung program Wonderful Indonesia.
"Selain potensi air, kami punya seni kethoprak, lesung, tarian dan karawitan. Saat ini, selain Latar Tjokro dan OMAC, wisata tubing dan kuliner sate kere menjadi andalan. Semakin baik hubungan antar-stakeholder, semakin meningkat pula perekonomian warga Desa Cokro," ucap Heru.
Lebih lanjut, pihaknya optimis penguatan model pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, komunitas, pebisnis dan media, Desa Cokro mampu bertransformasi menjadi destinasi eco culture tourism unggulan di Jawa Tengah.(ren)
Editor : Nur Pramudito