RADARSOLO.COM – Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) kelas program khusus (PK) dibuka 4-8 Mei 2026 mendatang.
Nantinya, kelas PK akan menempati SMPN 24 dan SMPN 25 Solo.
Terkait calon murid, diprioritaskan dari keluarga miskin (gakin) dengan syarat memiliki kecerdasan istimewa.
Kasi Manajemen Pendidikan Menengah (MPM) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Anik Indriyani menjelaskan, program ini implementasi dari amanat Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 5 ayat 4.
Baca Juga: Sambangi UMS, Wakil Ketua MPR RI Soroti Paradoks Energi dan Krisis Iklim
Menegaskan bahwa negara wajib hadir dalam memberikan layanan pendidikan sesuai kebutuhan anak.
“Melalui program ini, kami memfasilitasi siswa di kelas khusus yang berlokasi di SMPN 24 dan SMPN 25 Solo, melalui metode pembelajaran yang berbeda,” jelas Anik, Kamis (30/4).
Metode pembelajaran di kelas PK dirancang lebih komprehensif. Meliputi sistem moving class, homestay di rumah warga, hingga pembinaan karakter seperti kesamaptaan.
Program ini juga menekankan integrasi pembelajaran antara sekolah dan lingkungan rumah. Sehingga dalam proses seleksi, ada sesi wawancara dengan orang tua calon murid.
“Calon murid wajib mengikuti tes kemampuan akademik (TKA) SD. Disdik juga bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk tes psikologi dan pengukuran IQ. Batas minimal kategori rapid learner sekira 120,” imbuh Anik.
SPMB PK juga memprioritaskan prestasi akademik seperti olimpiade sains atau IPAS sebagai nilai tambah.
“Ada juga syarat fisik berupa tinggi badan minimal 145 cm untuk putra dan 143 cm untuk putri. Ini sebagai bekal jika siswa ingin melanjutkan ke Sekolah Garuda atau Taruna Nusantara,” bebernya.
Anik menambahkan, seleksi juga mencakup tes ketahanan belajar untuk mengukur konsistensi siswa. Termasuk komitmen orang tua dalam mendukung penerapan jam belajar di rumah.
“Tahun ini kuotanya 150 siswa. Masing-masing 75 siswa di SMPN 24 dan SMPN 25. Program ini gratis bagi siswa berprestasi," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno mengaku program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi siswa berpotensi.
Khususnya dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
“Ini bentuk keberpihakan pemerintah. Anak-anak yang punya potensi tapi secara ekonomi terbatas, harus didukung pemerintah agar bisa berkembang maksimal,” tegasnya.
Meski terbuka untuk umum, prioritas tetap diberikan kepada siswa dalam kota. Pendaftar dari luar daerah dibatasi maksimal 5 persen dari total kuota.
“Kami ingin memastikan manfaat program ini benar-benar dirasakan masyarakat Kota Solo. Sementara bagi keluarga mampu, masih banyak alternatif sekolah lain, termasuk swasta,” paparnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto