Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

RASOHISTORI: Hardiknas, Ternyata Mangkunegaran Sudah Majukan Pendidikan Perempuan Sejak 1912, Ini Jejak Sumbangsih Sekolah Sisworini

Niko auglandy • Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:01 WIB
Para pengajar di Sekolah Sisworini Pura Mangkunegaran bersama murid-muridnya. (DOK. ARSIP REKSA PUSTAKA PURA MANGKUNEGARAN)
Para pengajar di Sekolah Sisworini Pura Mangkunegaran bersama murid-muridnya. (DOK. ARSIP REKSA PUSTAKA PURA MANGKUNEGARAN)

RADARSOLO.COM - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei kembali menjadi momentum refleksi penting bagi dunia pendidikan Indonesia.

Pada tahun 2026, peringatan ini jatuh pada Sabtu (2/5) dan bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Namun jauh sebelum konsep pendidikan modern berkembang luas, sejumlah inisiatif telah lahir dari lingkungan kerajaan, termasuk di Pura Mangkunegaran.

Baca Juga: RASOHISTORI: Drama Kartu Merah dan Dua Kali Laga Dihentikan, Suporter Persis Solo Kepung Stadion Taruna Sragen

Salah satu tonggak pentingnya adalah berdirinya Sekolah Sisworini, yang menjadi simbol awal pemberdayaan perempuan di Surakarta.

Sekolah Sisworini didirikan pada 1912 atas perhatian K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VI terhadap pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Di masa itu, langkah tersebut tergolong progresif, mengingat akses pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas.

Menariknya, kurikulum Sisworini tidak hanya berfokus pada keterampilan domestik.

Baca Juga: RASOHISTORI, 28 April 1946:  Ribuan Tentara Jepang “Lenyap” dari Pulau Jawa ‎

Para peserta didik juga dibekali ilmu umum seperti baca tulis, pengelolaan keuangan, olahraga, hingga pengetahuan kesehatan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan perempuan sejak awal sudah diarahkan untuk membangun kemandirian dan kapasitas intelektual.

Seiring waktu, Sisworini tidak lagi terbatas bagi kalangan putri bangsawan atau sentana dalem. Akses pendidikan dibuka lebih luas untuk masyarakat umum, memperkuat perannya sebagai institusi yang inklusif di tengah perubahan zaman.

Kini, jejak sejarah tersebut masih terasa melalui berbagai aktivitas di Bale Sisworini.

Beragam lokakarya, pameran, hingga kegiatan edukatif terus digelar sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat pemberdayaan perempuan di era modern.

Baca Juga: ‎RASOHISTORI, 24 April 1946: Baru Merdeka, Indonesia Sudah Urus Tawanan Perang Dunia II, Ini Kisahnya!

Dalam konteks kekinian, semangat Sisworini sejalan dengan visi “Culture Future” yang diusung Mangkunegaran—yakni merawat nilai-nilai tradisi sekaligus menjawab tantangan masa depan.

Hardiknas pun menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga tentang membuka ruang kesetaraan dan pemberdayaan bagi semua. (nik

Editor : Niko auglandy
#rasohistori #Pura Mangkunegaran