Dusun yang dikenal dengan udara sejuk dan tanah vulkaniknya yang subur ini kini tidak hanya mengandalkan sektor pertanian.
Tetapi juga menjadi pusat inovasi bagi kerajinan Batik Linggo, khususnya varian Batik Ciprat Gonoharjo.
Baca Juga: UNS Gelar Webinar AI dan Inklusivitas, Hadirkan Ekonom Dunia Daron Acemoglu
Karya dari Problematika Sosial
Batik Ciprat Gonoharjo bukan sekadar kain hias. Produk ini lahir sebagai solusi atas tantangan sosial di wilayah yang berpenduduk sekitar 5.200 jiwa tersebut.
Guna mengoptimalkan potensi itu, tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis/S-1 Akuntansi UNS yang dipimpin Prof. Dr. Rahmawati menggelar Program Kemitraan Masyarakat Internasional (PKMI) di Kendal, Jateng.
Kegiatan pengabdian masyarakat itu juga melibatkan Prof. Dr. Dwi Prasetyani, Prof. Dr. Asri Laksmi Riani.
Serta Catur Sugiarto S.E., M.SM.,M.Rech.,Ph.D.,CDMP dan Dr. Desy Nurcahyanti.
Mereka berbagi peran guna mendorong pelaku UMKM batik ciprat di Kendal naik kelas melalui Inovasi teknologi.
Program ini menyasar kaum muda ekonomi lemah, perempuan, dan penyandang disabilitas intelektual.
Metode "ciprat" dipilih karena tekniknya yang adaptif dan relatif mudah dipelajari, namun tetap mampu menghasilkan motif unik mulai dari abstrak, binatang, hingga wayang.
Meski memiliki potensi besar, para pengrajin di Dusun Gono Barat menghadapi kendala klasik: efisiensi produksi dan dampak lingkungan.
Setiap bulannya, produksi 100 hingga 200 lembar batik menghasilkan limbah pewarna kimia hingga 1.000 liter yang berisiko mencemari tanah dan sumber air alami di sekitarnya.
Sinergi Akademisi dan Teknologi Tepat Guna
Menjawab tantangan tersebut tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerja sama dengan mitra internasional UiTM melakukan intervensi melalui program inkubasi teknologi.
Program ini didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Kendal dan Dinas Koperasi UMKM setempat.
Sejumlah inovasi teknologi yang diterjunkan meliputi:
• Mesin Feeder Pewarna & Spray Gun: Teknologi pewarnaan semi-otomatis untuk meningkatkan konsistensi motif dan efisiensi bahan.
• Meja Cap Ergonomis: Dirancang khusus untuk kenyamanan pengrajin disabilitas.
• Inovasi Absorben Organik: Memanfaatkan limbah bonggol jagung setempat untuk mengolah limbah pewarna agar ramah lingkungan.
• Digitalisasi Desain & Pemasaran: Pendampingan branding dan penggunaan aplikasi kasir digital untuk manajemen usaha yang lebih rapi.
Riset menunjukkan bahwa penggunaan mesin feeder mampu menekan penggunaan pewarna hingga 20% dan meningkatkan output produksi hingga dua kali lipat.
Metode Pemberdayaan Berkelanjutan
Program ini dijalankan melalui konsep Community Development yang terbagi dalam tiga tahap: persiapan, pelaksanaan (3 siklus pelatihan inklusif), dan evaluasi.
Tim ahli yang terlibat mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari desain produk (FSRD), ahli kewirausahaan, tata kelola UMKM, hingga pakar pemasaran digital.
Mahasiswa juga turut dilibatkan sebagai co-trainer melalui skema KKN Tematik, yang mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi sekaligus memberikan pengalaman lapangan nyata.
Dampak Nyata dan Harapan ke Depan
Pemerintah Desa Gonoharjo berkomitmen agar program ini tidak berhenti pada pelatihan saja.
Dengan terbentuknya kelompok usaha inklusif, Batik Ciprat Gonoharjo kini mulai merambah pasar yang lebih luas melalui pameran lokal dan platform daring.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, program ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik maupun ekonomi bukan penghalang untuk produktif.
Transformasi dari rutinitas tradisional menuju industri kreatif berbasis teknologi ini diharapkan mampu mengentaskan kemiskinan dan menjadi model replikasi bagi wilayah lain di Indonesia dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs).
Tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari kampus.
Termasuk dalam hal pendanaan dengan nomor kontrak Nom : 463/UN27.22/PT.01.03/2026. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono