Dua Mahasiswa Raih Gelar Doktor, UNU Surakarta Cetak Doktor ke-50 dan 51
RADARSOLO.COM - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta kembali meluluskan dua mahasiswa pada ujian promosi doktor Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam (PAI), Kamis (7/5/2026). Keduanya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji dalam ujian terbuka promosi doktor.
Dian Permana tercatat sebagai doktor ke-50 UNU Surakarta. Dia mempertahankan disertasi berjudul “Pendidikan Anak dalam Islam: Studi Pemikiran Abdullah Nashih Ulwah dalam Kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam Perspektif Aksiologi dan Kurikulum Rahmatul Lil Alamin.”
Dalam hasil penelitiannya, Dian menyimpulkan bahwa pemikiran Abdullah Nashih Ulwah menekankan pentingnya pendidikan anak sejak dini secara menyeluruh dengan landasan utama keimanan, akhlak, dan keteladanan.
“Beliau menekankan pentingnya pendidikan anak sejak dini sebagai pondasi karakter, serta menanamkan tanggung jawab sosial dengan kesadaran beragama sebagai muslim yang utuh,” ujarnya.
Menurut Dian, konsep pendidikan Nashih Ulwah relevan diterapkan dalam kurikulum karena mencakup pendidikan yang menyeluruh, berakar, dan seimbang dengan nilai-nilai sunah.
“Ini menegaskan bahwa pendidikan anak dalam Islam bukan sekadar proses transfer pengetahuan keagamaan saja, melainkan membentuk karakter rahmatan lil alamin dan kemaslahatan sosial,” tegasnya.
Sementara itu, Moch Soleh menjadi doktor ke-51 UNU Surakarta melalui disertasinya yang berjudul “Transformasi Akhlak Masyarakat Marjinal Berbasis Spiritualitas Sufistik Melalui Ratid Al Haddad oleh Habib Zainal Bin Nuh Al-Haddad Samirono, Yogyakarta Tahun 2024.”
Dalam penelitiannya, Soleh menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan Habib Zainal tidak menghakimi masyarakat marjinal, melainkan menempatkan mereka sebagai kelompok yang perlu dipulihkan martabatnya.
“Pedagogi pembelajaran juga dilakukan sesuai kesiapan jamaahnya. Selain itu pembelajaran dilakukan tidak hanya melalui ceramah, tetapi melalui perilaku, kerendahan hati, dan kedekatan personal,” jelasnya.
Dia juga menilai pendekatan sufistik tetap relevan di era digital karena manusia kini semakin mudah terhubung melalui teknologi, tetapi semakin rapuh secara spiritual.
“Dengan demikian pendekatan sufistik tidak hanya relevan bagi masyarakat marjinal, tetapi juga menjadi tawaran etika dan spiritual bagi masyarakat modern,” tegasnya.
Rektor UNU Surakarta A. Mufrod Teguh Mulyo berharap capaian tersebut tidak berhenti pada gelar doktor saja, melainkan terus berkembang hingga jenjang guru besar.
“Kami berharap penelitian tidak berhenti di gelar doktor saja, tetapi bisa ditingkatkan hingga guru besar,” pungkasnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy