RADARSOLO.COM – Desa Ledok Dawan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, kini tengah bersiap menjadi pionir destinasi wisata baru di Jawa Tengah.
Melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Universitas Sebelas Maret (UNS), tim riset lintas disiplin melaksanakan program bertajuk "Usaha Hidroponik untuk Menunjang Edu-Wisata di Ledok Dawan Grobogan".
Program ini hadir sebagai jawaban atas tantangan keterbatasan lahan pertanian konvensional dan minimnya akses masyarakat terhadap teknologi pertanian modern.
Dengan memanfaatkan sistem hidroponik, desa ini diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran pertanian berkelanjutan sekaligus destinasi pariwisata berbasis pengetahuan.
Solusi Pertanian Modern di Lahan Terbatas
Ketua Tim Pengabdian, Prof Dr Rahmawati mengungkapkan bahwa potensi alam Ledok Dawan sangat besar, namun belum tergarap optimal.
Masyarakat selama ini masih bergantung pada metode pertanian tradisional yang rentan terhadap perubahan iklim dan membutuhkan lahan luas.
"Kami memperkenalkan sistem hidroponik seperti Nutrient Film Technique (NFT) dan Wick System sebagai alternatif pertanian yang efisien air, ramah lingkungan, dan bisa dilakukan di lahan sempit," jelasnya.
Salah satu narasumber ahli yang terlibat, Prof Dr Endang Dwi Amperawati, menekankan bahwa hidroponik bukan sekadar cara menanam, melainkan teknologi masa depan.
Sistem ini dilengkapi dengan sensor otomatis pengontrol kadar air dan pH guna memastikan hasil panen yang lebih cepat dan berkualitas tinggi dibandingkan metode konvensional.
Membangun Ekosistem Edu-Wisata
Program PKM HGR-UNS ini tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga membangun fasilitas infrastruktur edukasi.
Target utamanya adalah menciptakan "Taman Edukasi Hidroponik" yang menjadi daya tarik wisatawan.
Di tempat ini, pengunjung dapat belajar langsung mengenai teknologi hijau sembari menikmati suasana pedesaan.
Adapun langkah strategis yang dijalankan meliputi:
- Pelatihan Intensif: Pendampingan masyarakat dalam mengelola sistem hidroponik skala kecil dan besar.
Baca Juga: Pojok Merdeka, Nostalgia Karya Lintas Generasi Alumni FSRD UNS
- Manajemen Ekonomi: Pelatihan akuntansi BUMDes dan manajemen keuangan usaha oleh pakar ekonomi UNS.
- Digital Marketing: Optimalisasi pemasaran produk sayuran organik melalui marketplace (Shopee/Tokopedia) dan media sosial.
Implementasi MBKM dan Sinergi Akademisi
Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Pertanian UNS dilibatkan langsung dalam mendampingi warga.
Hal ini mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas, khususnya IKU 2 (mahasiswa berkegiatan di luar kampus) dan IKU 3 (dosen berkegiatan di luar kampus).
Tim pengabdian terdiri dari para pakar di bidangnya, antara lain Dr Sri Murni, Dr Edy Supriyono, Dr Sri Hartoko, dan Dr Ari Kuncara Widagdo, yang masing-masing membawa kompetensi dari sisi akuntansi, pemasaran, hingga kewirausahaan.
Harapan Kesejahteraan Masyarakat
Dengan adanya pusat edukasi wisata ini, pendapatan masyarakat Desa Ledok Dawan diharapkan meningkat dari dua sumber utama.
Penjualan produk pertanian hidroponik yang bernilai jual tinggi (sayuran organik) dan sektor jasa pariwisata.
"Kami ingin Ledok Dawan menjadi model desa mandiri ekonomi yang berbasis inovasi pertanian berkelanjutan, yang nantinya bisa dicontoh oleh desa-desa lain di Grobogan," pungkas Endang Dwi Amperawati.
Editor : Syahaamah Fikria