Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Transformasi Desa Ledokdawan Grobogan: Kembangkan Edu-Wisata Berbasis Hidroponik Lewat Program PKM HGR-UNS

Syahaamah Fikria • Sabtu, 9 Mei 2026 | 20:23 WIB
Tim PKM HGR UNS melaksanakan riset Usaha Hidroponik untuk Menunjang Edu-Wisata di Ledok Dawan Grobogan.
Tim PKM HGR UNS melaksanakan riset Usaha Hidroponik untuk Menunjang Edu-Wisata di Ledokdawan Grobogan.

RADARSOLO.COM – Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, kini tengah bersiap menjadi pionir destinasi wisata baru di Jawa Tengah. 

Melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Universitas Sebelas Maret (UNS), tim riset lintas disiplin melaksanakan program bertajuk "Usaha Hidroponik untuk Menunjang Edu-Wisata di Ledokdawan Grobogan".

Program ini hadir sebagai jawaban atas tantangan keterbatasan lahan pertanian konvensional dan minimnya akses masyarakat terhadap teknologi pertanian modern. 

Dengan memanfaatkan sistem hidroponik, desa ini diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran pertanian berkelanjutan sekaligus destinasi pariwisata berbasis pengetahuan.

Baca Juga: Dana Abadi Alumni UNS Diluncurkan, Perkuat Keberlanjutan Pendidikan Berkualitas dan Beasiswa Mahasiswa

Solusi Pertanian Modern di Lahan Terbatas

Ketua Tim Pengabdian, Prof Dr Rahmawati mengungkapkan bahwa potensi alam Ledokdawan sangat besar, namun belum tergarap optimal. 

Masyarakat selama ini masih bergantung pada metode pertanian tradisional yang rentan terhadap perubahan iklim dan membutuhkan lahan luas.

"Kami memperkenalkan sistem hidroponik seperti Nutrient Film Technique (NFT) dan Wick System sebagai alternatif pertanian yang efisien air, ramah lingkungan, dan bisa dilakukan di lahan sempit," jelasnya.

Salah satu narasumber ahli yang terlibat, Prof Dr Endang Dwi Amperawati, menekankan bahwa hidroponik bukan sekadar cara menanam, melainkan teknologi masa depan. 

Sistem ini dilengkapi dengan sensor otomatis pengontrol kadar air dan pH guna memastikan hasil panen yang lebih cepat dan berkualitas tinggi dibandingkan metode konvensional.

Membangun Ekosistem Edu-Wisata

Program PKM HGR-UNS ini tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga membangun fasilitas infrastruktur edukasi. 

Target utamanya adalah menciptakan "Taman Edukasi Hidroponik" yang menjadi daya tarik wisatawan. 

Di tempat ini, pengunjung dapat belajar langsung mengenai teknologi hijau sembari menikmati suasana pedesaan.

Adapun langkah strategis yang dijalankan meliputi:

- Pelatihan Intensif: Pendampingan masyarakat dalam mengelola sistem hidroponik skala kecil dan besar.

Baca Juga: Pojok Merdeka, Nostalgia Karya Lintas Generasi Alumni FSRD UNS

- Manajemen Ekonomi: Pelatihan akuntansi BUMDes dan manajemen keuangan usaha oleh pakar ekonomi UNS.

- Digital Marketing: Optimalisasi pemasaran produk sayuran organik melalui marketplace (Shopee/Tokopedia) dan media sosial.

Implementasi MBKM dan Sinergi Akademisi

Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). 

Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Pertanian UNS dilibatkan langsung dalam mendampingi warga. 

Hal ini mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas, khususnya IKU 2 (mahasiswa berkegiatan di luar kampus) dan IKU 3 (dosen berkegiatan di luar kampus).

Tim pengabdian terdiri dari para pakar di bidangnya, antara lain Dr Sri Murni, Dr Edy Supriyono, Dr Sri Hartoko, Drs Djoko Purwanto MSi, Dr Ari Kuncara Widagdo, dan lainnya yang masing-masing membawa kompetensi dari sisi akuntansi, pemasaran, hingga kewirausahaan.

Djoko Purwanto mengatakan, keberlanjutan program peningkatan kualitas dan kuantitas produksi hidroponik harus dipastikan dengan pemanfaatan sistem hidroponik yang tepat, diversifikasi produk pertanian, dan pemasaran yang berkelanjutan melalui toko online di marketplace. 

"Pendampingan selama 6 bulan dan evaluasi secara berkala tetap dilakukan untuk melihat keberhasilan program, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta melakukan pembenahan," kata dia.

Baca Juga: Tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS Bangkitkan Asa Batik Ciprat Gonoharjo Kendal melalui Inovasi Teknologi dan Desain

Harapan Kesejahteraan Masyarakat

Dengan adanya pusat edukasi wisata ini, pendapatan masyarakat Desa Ledokdawan diharapkan meningkat dari dua sumber utama.

Penjualan produk pertanian hidroponik yang bernilai jual tinggi (sayuran organik) dan sektor jasa pariwisata.

"Kami ingin Ledokdawan menjadi model desa mandiri ekonomi yang berbasis inovasi pertanian berkelanjutan, yang nantinya bisa dicontoh oleh desa-desa lain di Grobogan," pungkas Endang Dwi Amperawati.


Editor : Syahaamah Fikria
#edu-wisata #uns #hidroponik #pemberdayaan masyarakat #PKM HGR UNS