RADARSOLO.COM - Pendidikan anak usia dini (PAUD) kini ditantang untuk kembali ke alam semesta di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Seperti yang dilakukan TK Gajah Mada Ceper Klaten dengan menggelar program Gama Edu Camp (Gajah Mada Education Camp) di kawasan Embung Sikajar, Desa Pondok, Kecamatan Karanganom, Kamis (14/5/2026).
Bukan sekadar piknik biasa, kegiatan tersebut menjadi laboratorium karakter bagi anak-anak untuk mengenal jati diri dan negerinya.
Baca Juga: Dipicu Kebocoran Gas, Rumah Usaha Katering di Jagalan Habis Dilalap Si Jago Merah
Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah ketika puluhan siswa turun langsung menyusuri sungai untuk menangkap ikan.
Ketua Pengelola PAUD Gajah Mada sekaligus pemerhati pendidikan anak usia dini asal Klaten Dwi Kurniasih menjelaskan, kegiatan menangkap ikan memiliki filosofi olah rasa yang mendalam.
"Mungkin orang melihatnya hanya sekadar mencari ikan. Namun bagi kami, ini adalah proses mempersiapkan anak agar lebih selaras dalam berpikir dan merasa,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Nunik ini saat ditemui radarsolo.com.
Lebih lanjut, Ia mengungkapkan, dari kegiatan menangkap ikan itu terdapat air yang diinjak, cipratan yang mengenai wajah hingga batu-batu sungai yang mereka tapak.
Hal ini mengajak anak untuk memahami dirinya dan keterhubungannya dengan alam.
Nunik menjelaskan jika pengalaman sensorik langsung dengan alam bisa menggetarkan vibrasi positif dalam diri anak.
Hal ini menjadikan anak-anak tumbuh dengan rasa kasih sayang maupun welas asih.
Ia menekankan ada beberapa nilai utama dalam mendekatkan anak pada alam semesta dengan berbagai rangkaian.
Anak diajak mensyukuri anugerah Tuhan berupa udara bersih, air jernih dan rindangnya pepohonan.
"Melalui mendekatkan dengan alam, kami ingin anak-anak punya rasa ngopeni (merawat) apa yang sudah digelar oleh semesta," tambahnya.
Baca Juga: Aturan Baru Sudutkan Guru Honorer, Disdik Solo Pasang Badan, Jamin Tetap Bisa Mengajar
Di sisi lain, mampu menanamkan karakter kasih sayang atau welas asih melalui interaksi yang terbangun dengan mahkluk hidup.
Seperti pada kesempatan tersebut membawa ikan hasil tangkapan sampai ke rumah sebagai sarana belajar empati.
Tak hanya terkait kelestarian, anak bisa belajar kewirausahaan dengan melihat langsung proses produksi UMKM yang memanfaatkan potensi alam.
Seperti pengolahan sale pisang dan budidaya sayuran seperti timun dan pare.
“Untuk di sekolah mereka sebelumnya telah menanam pisang dan pare. Sedangkan di sini mereka melihat hasilnya diproses menjadi makanan. Ini mengajarkan mereka bahwa segala sesuatu butuh proses dan ketekunan,” jelas Nunik.
Nunik mengingatkan, usia dini adalah fondasi pendidikan. Jika fondasinya kuat dan selaras dengan alam, maka tumbuh kembang anak di masa depan akan lebih kokoh.
Ia pun mengajak para orang tua untuk melakukan hal serupa di rumah.
"Jika ingin family time atau healing, lakukanlah di alam terbuka. Biarkan anak-anak bereksplorasi. Seringkali, justru celoteh murni anak-anak saat di alam bisa menjadi pepeling (pengingat) bagi orang tuanya untuk ikut menjaga lingkungan," tuturnya.
Melalui kegiatan yang mendekatkan dengan alam, diharapkan anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual saja.
Tetapi juga memiliki keluhuran budi dan semangat Memayu Hayuning Bawono atau menjaga keindahan dan keselamatan dunia. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono