RADARSOLO.COM - Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Sema FEBI) UIN Raden Mas Said Solo menyoroti kinerja Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) kampus.
Mereka kecewa penanganan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan salah seorang dosen berinisial F terhadap sejumlah mahasiswi belum maksimal.
Sebab data korban yang digunakan Satgas PPKS dinilai tidak lengkap.
Sumber tepercaya dari Sema FEBI UIN Solo yang enggan disebut namanya mengaku, terus mengawal kasus dugaan pelecehan seksual tersebut sejak awal mencuat di lingkungan kampus.
Baca Juga: Dosen UIN Solo Diduga Lecehkan Sejumlah Mahasiswi, Rektor Desak Pelaku Minta Maaf Langsung
Namun menurutnya, hasil penanganan awal yang hanya berujung teguran dan permohonan maaf dari dosen bersangkutan muncul akibat miskomunikasi antara Satgas PPKS UIN Solo dengan mahasiswa pendamping korban.
“Kami memang mengawal kasus ini sejak awal. Hasil yang hanya berupa teguran itu di luar pengetahuan kami. Ini miskomunikasi antara pihak satgas dan Sema FEBI,” ujarnya, Rabu (20/5).
Ia menyebut laporan awal yang diproses belum menggunakan data yang dikumpulkan mahasiswa selama pendampingan korban. Menurutnya, data yang dipakai saat itu hanya dari data satgas PPKS yang dinilai kurang lengkap.
Sema FEBI juga telah melakukan penelusuran langsung terhadap para korban. Hasilnya, ada temuan 13 korban dugaan pelecehan oleh F.
Dari jumlah itu, baru tujuh mahasiswi bersedia memberikan kesaksian.
“Sisanya enggan bicara karena takut dampaknya bisa mengganggu proses perkuliahan,” bebernya.
Ia juga menyoroti mekanisme pelaporan yang dinilai menyulitkan korban.
Ia mengaku menerima keluhan dari sejumlah korban yang kesulitan mengisi laporan, karena error saat input data. Sehingga mereka batal melanjutkan pelaporan.
“Makanya saya pun bingung dengan press release yang satgas keluarkan soal sudah memberikan pengawalan dan semacamnya,” ujarnya.
Menurutnya, Sema FEBI sudah mengajak satgas PPKS untuk bertemu dan menyerahkan data tambahan agar penanganan kasus lebih komprehensif.
Namun komunikasi disebut berjalan kurang baik, hingga keputusan awal telanjur dijalankan.
“Kami sudah mengajak satgas bertemu dan memberikan data lebih lengkap yang kami miliki, agar hasil sebagaimana mestinya. Tapi satgas sulit diajak komunikasi,” urai J.
Ia menilai kondisi tersebut justru memicu polemik di lingkungan kampus. Saat ini, laporan kedua dengan data tambahan yang dikumpulkan Sema FEBI telah diajukan kembali ke pihak rektorat untuk diproses ulang.
"Sekarang sedang proses laporan yang kedua, pakai data yang kami kumpulkan langsung," tandasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto