RADARSOLO.COM - Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil (AK Tekstil) Solo gelar kuliah umum, Rabu (20/5).
Menghadirkan pakar industri tekstil sekaligus alumni universitas tekstil di Jerman Felixtian Teknowijoyo dan praktisi tekstil Liliek Setiawan.
Forum bertajuk "Kebangkitan Tekstil Indonesia" ini membahas dinamika industri tekstil nasional di tengah tekanan ekonomi global, lemahnya daya beli, hingga ketergantungan impor.
Akademisi dan pelaku industri menilai, sektor tekstil nasional masih memiliki peluang untuk bangkit melalui inovasi, penguatan sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor dan internasional.
Baca Juga: AK-Tekstil Solo dan Pemkot Solo Genjot Sosialisasi 100 Beasiswa Gratis untuk Warga
Dalam kuliah umum tersebut, Felixtian Teknowijoyo mengatakan industri tekstil lokal saat ini menghadapi tantangan berat akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
“Ya cukup tercekik dengan impor, jadi bahan baku kita masih bergantung banyak dengan impor karena standar benang dan serat tertentu sulit kita dapatkan dari produk lokal,” ujarnya.
Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu keluar dari persoalan tersebut melalui pengembangan riset dan inovasi berbasis potensi lokal.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku tekstil ramah lingkungan dan berdaya saing global.
“Saya percaya sumber daya manusia Indonesia ini tidak kacangan dan tidak bisa diremehkan. Sudah banyak lulusan Indonesia yang dipercaya bahkan di luar negeri,” katanya.
Praktisi tekstil sekaligus penyelenggara acara Liliek Setiawan menilai, industri tekstil nasional masih memiliki angin segar berkat masuknya investasi asing besar-besaran di Jawa Tengah.
Hal ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi di mata investor asing.
“Kalau memang investor-investor asing itu masuk ke Indonesia, berarti ada sesuatu yang menarik di sini. Pertanyaannya, kenapa pelaku industri nasional justru tampak lesu?” tanyanya.
Menurutnya, persoalan industri tekstil tidak hanya dipengaruhi nilai tukar dolar, tetapi juga penurunan daya beli masyarakat akibat situasi geopolitik global yang belum stabil.
Baca Juga: FEB UMS Gelar Forum, Dorong Link and Match Lulusan Dengan Industri
Kondisi itu membuat konsumsi sandang tidak lagi menjadi prioritas utama masyarakat.
“Problem utamanya sebenarnya kemampuan pasar dan daya beli masyarakat. Kalau pembelinya ada, sebenarnya dolar berapa pun tidak masalah,” ujarnya.
Liliek berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menciptakan iklim usaha lebih sehat dan setara bagi industri tekstil nasional, termasuk melalui dukungan revitalisasi mesin industri dan keberpihakan terhadap inovasi dalam negeri.
Melalui kuliah umum tersebut, Liliek mendorong AK Tekstil Solo dapat menciptakan gagasan baru dan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah guna memperkuat daya saing tekstil nasional di tengah dinamika ekonomi global. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto