RADARSOLO.COM - Kreativitas memang tanpa batas. Tak harus dari ilmuwan atau akademisi, bocah SD pun bisa berinovasi.
Buktinya, tiga siswa SD Pangudi Luhur St. Timotius Solo bikin aplikasi pemilah sampah berbasi AI: EcoLogic.
Tak main-main, EcoLogic raih juara nasional.
Adalah Samuel Maverick Linardi, Bara Genibiru, dan Adriel Hielarius Prasetya, tiga siswa yang menciptakan inovasi tersebut.
Selain menyabet penghargaan Innovation Spark Award, aplikasi tersebut dikukuhkan sebagai juara 1 nasional kompetisi Codeavour 7.0, yang mengusung tema teknologi, AI, coding, dan robotik untuk generasi muda.
EcoLogic menghadirkan solusi terkait edukasi pengelolaan sampah bagi masyarakat dan pelajar. Bara menjelaskan, aplikasi tersebut memiliki tiga fitur utama.
“Pertama, ada kuis tentang daur ulang sampah. Ada lima soal dan nanti pengguna bisa melihat skor sekaligus ranking sesuai nilainya,” jelas Bara saat ditemui di sekolahnya, Jumat (22/5).
Baca Juga: Dosen Predator FEBI UIN Solo Dinonaktifkan, Kembali Ancam Korban Ungkit Nilai Matkul Tidak Lulus
Kedua, berupa scanner berbasis kamera yang mampu membaca jenis sampah organik maupun anorganik. Pengguna cukup mengarahkan benda ke kamera, lalu sistem akan mengidentifikasi kategori sampah tersebut.
“Ketiga, ada fitur ide daur ulang. Jadi, ada sembilan pilihan sampah yang bisa diolah lagi menjadi barang berguna. Misalnya sampah organik jadi pupuk ekoenzim, botol plastik jadi tempat pensil atau pot tanaman,” imbuh Bara.
Pembuatan aplikasi tersebut butuh waktu sekira enam bulan, dengan pendampingan dari lembaga coding sekolah.
Menurut Bara, ide aplikasi ini muncul dari kondisi lingkungan sekitar rumah dan sekolah, yang masih mencampur sampah tanpa proses pemilahan.
“Banyak juga yang belum tahu, mana sampah organik dan anorganik. Jadi kami punya ide untuk bikin aplikasi ini,” beber Bara.
Selama proses pengerjaan, Bara dkk sempat menghadapi sejumlah kendala teknis.
Mulai dari scanner yang salah membaca jenis sampah, hingga projek aplikasi yang sempat tidak bisa disimpan dan harus dibuat ulang.
“Sempat error karena scanner kadang bacanya nggak sempurna. Sampah organik dibaca anorganik. Terus projeknya juga pernah nggak bisa dibuka. Jadi harus mengulang dari awal,” ujarnya.
Baca Juga: Mau Masuk SMP Negeri Favorit di Karanganyar? Simak Jadwal SPMB dan Daftar Sekolahnya
Apa pun rintangan yang menghadang, Bara dkk ogah kibarkan bendera putih. Mereka tetap tekun dan bersemangat, hingga berhasil menyelesaikan aplikasi.
Sayangnya, EcoLogic belum bisa diterapkan di lingkungan sekolah dan masih sebatas projek untuk lomba.
Namun, mereka berharap aplikasi tersebut bisa dikembangkan dan digunakan sebagai media edukasi pengelolaan sampah di masyarakat.
“Harapannya, masyarakat di Solo dan teman-teman di sekolah jadi tahu cara memilah sampah organik dan nonorganik. Serta bisa mendaur ulang jadi barang yang lebih berguna,” beber Bara. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto