Pementasan bertajuk "Wanita Dalam Pelita" itu menjadi karya terbaru dari kelompok Teater Citra Mandiri SMA Negeri 2 Solo. Mereka mengadaptasi naskah Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet menjadi pertunjukan monolog dengan pendekatan tiga tokoh Marsinah dalam satu panggung.
Baca Juga: Pementasan Sedulur Papat Limo Pancer di Desa Gombang: Kolaborasi 100 Seniman Memukau Ribuan Penonton
Di tengah minimnya ruang pertunjukan teater pelajar, produksi tersebut hadir bukan sekadar sebagai pentas seni sekolah. Pertunjukan itu menjadi medium bagi para siswa untuk menyuarakan keresahan sosial yang mereka lihat hari ini.
Asisten sutradara pertunjukan, Stefani Ayudya Kusumaningrum mengatakan, pementasan tersebut digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap seni lokal sekaligus wadah pengembangan bakat pelajar di bidang seni pertunjukan.
“Pementasan ini diadakan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni lokal di Indonesia, seperti seni tari dan seni teater. Harapannya, pentas seni ini dapat meningkatkan minat dan bakat teman-teman, terutama di bidang seni,” ujar perempuan yang akrab disapa Ayu itu.
Baca Juga: Ngaku Operator Credit Card, Residivis Gondol Laptop Teman Kost di Manahan
Namun bagi Ayu, Wanita Dalam Pelita tidak hanya berbicara soal seni. Ada pesan yang lebih besar yang ingin disampaikan lewat kisah Marsinah. Yakni keberanian untuk bersuara terhadap ketidakadilan.
“Pesannya adalah kita harus berani mengungkapkan suara dan pendapat kita supaya isi hati bisa tersampaikan demi menegakkan keadilan,” lanjut alumnus SMA Negeri 2 Solo tersebut.
Ayu menilai naskah Marsinah Menggugat masih sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini. Dari berbagai berita yang ia ikuti, masih banyak pekerja yang belum memperoleh penghargaan layak atas pekerjaan mereka.
Menurutnya, kondisi itu terlihat dari masih rendahnya upah sejumlah pekerja seperti guru honorer maupun tenaga kesehatan.
Di sisi lain, dia menilai ada program tertentu yang justru memberi imbalan lebih tinggi kepada pekerja dengan kemampuan yang dianggap tidak sebanding.
“Masih banyak buruh atau pekerja yang upahnya berada di bawah kelayakan, seperti guru honorer dan tenaga kesehatan. Mereka sudah bertahun-tahun bekerja, tetapi masih menerima upah yang rendah,” katanya.
Meski menjadi asisten sutradara, Ayu mengaku proses produksi bukan hal mudah baginya. Apalagi dia belum memiliki pengalaman panjang di dunia teater. Bahkan sebelumnya dia belum pernah tampil di atas panggung.
Tanggung jawab besar datang ketika dia harus menggantikan sutradara saat berhalangan hadir. Di situlah tekanan mulai terasa. Dia takut arahan yang diberikan kepada para pemain justru berbeda dengan visi sang sutradara.
“Saya sering takut kalau arahan yang saya sampaikan kepada teman-teman di panggung berbeda dengan kehendak sutradara,” ungkapnya.
Sementara itu, tokoh utama Marsinah diperankan Chelsea Bunga Nur Fathonah. Siswi kelas 10 SMA Negeri 2 Solo ini mengaku sempat terkejut ketika naskah monolog tersebut diubah menjadi pertunjukan dengan tiga sosok Marsinah sekaligus.
“Sutradara kemudian mengadaptasinya menjadi dimainkan oleh tiga aktor. Ada tiga sosok Marsinah, yakni Marsinah pertama sebagai buruh, sedangkan Marsinah dua dan tiga menggambarkan sisi atau jati diri Marsinah yang lain,” jelas Chelsea.
Bagi Chelsea, isu yang dibawa dalam naskah tersebut terasa dekat dengan realitas hari ini. Meski kisah Marsinah sudah berlalu hampir tiga dekade, persoalan tentang upah buruh dan ketidakadilan masih terus terjadi.
“Meskipun kisah dalam naskah ini sudah hampir 30 tahun berlalu, isunya masih sangat relevan sampai sekarang. Kami berharap semua orang berani membuka suara atas ketidakadilan yang mereka dapatkan,” katanya.
Menariknya, pertunjukan itu juga menjadi pengalaman panggung pertama bagi Chelsea.
Tekanan besar dia rasakan karena harus memerankan figur penting dalam sejarah perjuangan buruh Indonesia. Untuk mendalami karakter, dia melakukan banyak riset tentang kehidupan Marsinah, mulai dari kehidupan pribadi hingga kematiannya.
“Sebelumnya saya hanya tahu Marsinah sebagai sosok yang memperjuangkan hak buruh. Namun setelah mendalami peran ini, saya jadi lebih banyak mengetahui tentang beliau,” tuturnya.
Melalui Wanita Dalam Pelita, Teater Citra Mandiri seakan ingin menegaskan bahwa panggung teater bukan hanya ruang hiburan.
Di tangan para pelajar muda itu, panggung berubah menjadi ruang refleksi sosial tentang suara-suara yang selama ini kerap dipinggirkan, namun terus mencari jalan untuk didengar. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy