RADARSOLO.COM — Kondisi infrastruktur bangunan SMP Negeri 23 Solo dinilai semakin memprihatinkan dan jauh dari kata ideal untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Meski dokumen detail engineering design (DED) proyek revitalisasi sekolah sudah rampung disusun sejak 2024, hingga kini proyek fisik tersebut belum juga terealisasi akibat keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah daerah.
Kepala SMP Negeri 23 Solo Sri Rahayu mengungkapkan, sekolah yang dipimpinnya sebenarnya sempat masuk ke dalam draf prioritas pembangunan Dinas Pendidikan Kota Solo pada awal 2024.
Dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) saat itu bahkan sudah memplot anggaran sebesar Rp 22 miliar.
Baca Juga: 256.369 Peserta Lulus SNBT 2026, Bagaimana Jika Belum Lolos Masuk PTN Favorit Tahun Ini?
Namun, rencana tersebut mendadak dialihkan untuk menyokong pembangunan SMP Negeri 6 Solo yang mendapatkan dana hibah dari Uni Emirat Arab (UEA).
“Padahal dokumen DED-nya sudah jadi secara rinci dan tebal, gambar teknis juga sudah ada dan selesai direview oleh konsultan pelaksana. Tapi anggarannya mendadak dialihkan. Kondisi ini membuat kami harus menunggu tanpa kepastian,” ujar Sri Rahayu, Senin, Senin (25/5).
Sri Rahayu membeberkan, kerusakan fisik bangunan terjadi hampir merata di berbagai sudut sekolah.
Beberapa titik kerusakan krusial yang kasat mata meliputi atap ruang kelas yang bocor dan memicu plafon berjamur, kusen jendela yang mulai lapuk hingga daun jendela lepas.
Selain itu, area halaman dengan paving yang bergelombang, ambles, dan retak-retak. Dinding bangunan luar dan dalam yang mengelupas parah.
“Semennya bahkan sudah terlepas dari struktur batu bata di beberapa bagian dinding. Ada juga beberapa ruangan berukuran kecil yang tidak bisa dimaksimalkan untuk kelas, akhirnya hanya kami fungsikan sebagai gudang penyimpanan barang,” imbuhnya.
Selain itu, SMPN 23 Solo hingga saat ini belum memiliki fasilitas aula yang representatif.
Dampaknya, setiap kali mengadakan forum pertemuan dengan orang tua murid, pihak sekolah terpaksa menggunakan ruang laboratorium IPA yang kondisinya sempit dan panas.
Opsi lainnya adalah menggunakan ruang di lantai atas, namun panitia harus menguras energi untuk memindahkan ratusan kursi setiap kali acara berlangsung.
Lambatnya intervensi dari pemerintah daerah memaksa manajemen sekolah memutar otak demi menjaga kenyamanan serta keselamatan para siswa di lingkungan draf belajar.
Pihak sekolah akhirnya melakukan renovasi mandiri skala kecil menggunakan alokasi dana bantuan operasional sekolah (BOS).
“Sekitar 250 hingga 300 meter persegi paving block di bagian halaman depan terpaksa kami perbaiki sendiri menggunakan dana BOS agar anak-anak tidak tersandung. Untuk penanganan atap bocor dan pengecatan ruang kelas, kami lakukan bertahap berkat dukungan swadaya dari orang tua siswa saat momen kerja bakti,” papar Sri Rahayu.
Baca Juga: Pengumuman UTBK SNBT 2026 Jam Berapa? Ini Link Resmi dan 43 Mirror Cek Hasil Kelulusan
Ia menegaskan, pembenahan sarana dan prasarana (sarpras) ini sangat vital. Apalagi di era sistem penerimaan murid baru (SPMB) berbasis zonasi, tampilan fisik sekolah menjadi draf penilaian utama bagi masyarakat sekitar.
"SDM guru terus kami genjot lewat diklat, tapi itu tidak akan optimal jika tidak didukung sarpras yang layak," keluhnya.
Kepala SMP Negeri 8 Solo Sarjoko juga membeberkan kerusakan fisik di sekolahnya terkonsentrasi di area laboratorium IPA, dua ruang kelas utama, serta gedung aula.
Menurutnya, pemenuhan fasilitas sekolah yang aman dan kokoh merupakan aspek dasar yang mutlak guna menciptakan ekosistem sekolah ramah anak.
“Kerusakan komparatif ada di lab IPA, dua ruang kelas, dan aula sekolah. Menurut saya, esensi sekolah ramah anak itu indikator utamanya adalah aman dan nyaman. Kalau kondisi fisiknya ringkih lalu terjadi sesuatu hal yang tidak terduga, tentu pihak sekolah yang akan ikut terseret dampaknya,” ujar Sarjoko saat ditemui di lingkungan sekolah, Rabu (20/5).
Jeritan serupa diutarakan manajemen SDN Mojosongo 3 Solo. Kepala SDN Mojosongo 3 Sari Nuri Hayani menambahkan, untuk draf kerusakan minor, pihak sekolah masih bisa meminta stimulus dana taktis dari dinas terkait maupun pos APBD. Namun untuk kebutuhan rekonstruksi berskala masif, sekolah tidak memiliki pilihan selain mengantre dana pusat.
Baca Juga: 60 Guru Digembleng Jadi Pembina Pramuka Dalam Kursus Mahir Dasar
Catatan logistik menunjukkan, SDN Mojosongo 3 terakhir kali menerima draf program rehabilitasi lima ruang kelas pada 2021 silam. Jumlah tersebut dinilai sudah tidak lagi proporsional untuk menampung padatnya volume siswa yang kini mencapai 343 anak per hari ini.
"Selain ruang kelas, draf kebutuhan mendesak kami adalah perbaikan infrastruktur pagar pembatas. Posisi sekolah kami berdekatan langsung dengan jalur padat jalan raya, sementara tinggi pagar eksisting saat ini baru setinggi satu meter. Kami berharap draf ajuan revitalisasi fisik ini bisa segera direspons demi menjamin keselamatan berlalu lintas anak-anak," pungkas Sari. (alf/bun)
Editor : fery ardi susanto