Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

APBD Hanya Bisa Kucurkan Rp 1,5 Miliar untuk 84 Sekolah

Alfida Nurcholisah • Senin, 25 Mei 2026 | 17:10 WIB
Kondisi SDN 03 Mojosongo, Jebres, Solo yang memprihatinkan, banyak plafon sudah jebol. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
Kondisi SDN 03 Mojosongo, Jebres, Solo yang memprihatinkan, banyak plafon sudah jebol. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Masalah keterbatasan anggaran pendidikan di Kota Solo berimbas langsung pada penundaan perbaikan infrastruktur sekolah negeri.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo blak-blakan mengaku kini sangat bergantung pada program pengucuran dana revitalisasi dari pemerintah pusat untuk membenahi sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan kategori sedang hingga berat.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana SD Disdik Kota Solo Adji Anggoro Rukmo menjelaskan, program revitalisasi satuan pendidikan merupakan program nasional dengan kuota yang sangat terbatas.

“Revitalisasi ini merupakan program nasional. Di kota kita, ada sekitar 30 sekolah dasar yang masuk dalam draf kandidat, namun pada tahap pertama baru terpilih tiga sekolah. Untuk tahap selanjutnya, kami masih harus menunggu kepastian dari pusat menyesuaikan ketersediaan anggaran mereka,” terang Adji.

Baca Juga: Potret Sekolah Negeri Di Solo Di Tengah Krisis Anggaran, Usulan Perbaikan Gedung 2 Tahun Terkatung

Adapun tiga sekolah yang berhasil lolos masuk draf pembangunan tahap awal adalah SD Serengan 1, SD Gandekan, dan SD Sumber 1.

Langkah pengajuan langsung ke kementerian ini terpaksa ditempuh lantaran pada tahun anggaran ini tidak tersedia alokasi dana rehabilitasi sekolah dari APBD daerah.

Di luar tiga sekolah yang didanai pusat, disdik Solo juga melansir draf tiga sekolah dasar prioritas utama yang mendesak untuk segera mendapatkan intervensi pembangunan fisik.

Baca Juga: 60 Guru Digembleng Jadi Pembina Pramuka Dalam Kursus Mahir Dasar 

SD Mojosongo 3, kondisinya cukup mengkhawatirkan karena kerusakan parah melanda struktur atap bangunan.

Konstruksi atap terlihat mulai bergelombang dan bolong-bolong, yang ditakutkan bisa ambrol sewaktu-waktu jika diterjang hujan deras.

SD Mangkuyudan, kerusakan struktural sudah menyasar ruang-ruang kelas utama sehingga mengganggu proses belajar mengajar harian.

Rencananya, sekolah ini akan di-regrouping (digabung) dengan SD Purwotomo. Dokumen Detail Engineering Design (DED) perbaikan pun sudah disatukan di draf SD Purwotomo.

SD Mangkubumen Kidul masuk dalam daftar prioritas ketiga yang membutuhkan draf pembenahan secepatnya.

Kondisi serupa juga membayangi tingkat SMP. Kepala Seksi Sarana dan Prasarana SMP Disdik Kota Solo Rohmad Haryanto membeberkan ada lima SMP negeri yang membutuhkan penanganan darurat.

SMPN 8 Solo masuk prioritas nomor satu.

“Di SMPN 8, kerusakan struktural yang paling lama dibiarkan karena ketiadaan anggaran adalah amblasnya lantai ruang aula. Selain itu, ada enam ruang kelas di lantai dua yang atapnya bocor parah (tiga kelas sisi barat dan tiga kelas sisi timur), serta fasilitas lapangan sekolah yang rusak akibat desakan akar pohon,” urai Rohmad.

Baca Juga: Momen Haru Wisuda ke-IX Unisa Surakarta: Luluskan 189 Sarjana Keperawatan, Kedepankan Inklusivitas dan Nilai Kemanusiaan

Selanjutnya, draf prioritas ditujukan untuk kelanjutan proyek fisik tahun 2025 yang mandek di tiga sekolah, yakni SMPN 7, SMPN 5, dan SMPN 14.

Sementara untuk kasus SMP Negeri 23 Solo, draf usulan pembangunan baru sebetulnya sudah diajukan sejak 2023, namun terlewat karena keterbatasan alokasi dana makro.

Menanggapi terhimpitnya kondisi infrastruktur ini, Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno membenarkan bahwa postur fiskal daerah saat ini sedang mengalami tekanan hebat.

"Harapannya kondisi fiskal daerah segera membaik. Saat ini, dengan segala keterbatasan yang ada, fokus pembiayaan kami utamakan untuk menjamin layanan pembelajaran dan pemenuhan pendidikan dasar anak agar tetap bisa berjalan," tutur Dwi Ariyatno, Senin (25/5).

Dwi memaparkan, untuk tingkat SMP negeri di Solo, mayoritas kondisi sarprasnya masih relatif aman karena memiliki draf anggaran perawatan mandiri berkisar Rp50 juta hingga Rp75 juta per sekolah setiap tahun.

Berkaca pada kondisi tersebut, disdik memilih fokus mengintervensi tingkat sekolah dasar yang anggarannya masih dipegang penuh oleh dinas.

Pihaknya telah memetakan draf paket perbaikan untuk 84 SD Negeri di Solo dengan total anggaran Rp1,5 miliar dari APBD.

"Nilai bantuan tiap sekolah beragam sesuai tingkat kerusakan fisik. Ada yang hanya menerima Rp3 juta karena kerusakan ringan seperti membetulkan plafon jebol. Setidaknya, lewat paket pekerjaan ini kami berkomitmen menjamin aspek kenyamanan dan pemerataan layanan pendidikan anak-anak di Solo tetap terjaga," terang Dwi. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
#apbd solo #solo #sekolah rusak #disdik kota solo