Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Strategi PKBM Bunga Kantil Solo Atasi Anak Putus Sekolah: Rayu Lewat Kelas Barista hingga Salurkan Kerja ke Pabrik Roti

Alfida Nurcholisah • Minggu, 7 Juni 2026 | 17:03 WIB
Pelatihan barista di PKBM Bunga Kantil yang berlokasi di Jebres, Solo. (ALFIDA/RADAR SOLO)
Pelatihan barista di PKBM Bunga Kantil yang berlokasi di Jebres, Solo. (ALFIDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bunga Kantil di Kecamatan Jebres, Kota Solo, menjadi salah satu lembaga rujukan dalam memitigasi serta menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dari berbagai wilayah kecamatan di Kota Solo.

Langkah penanganan tidak hanya bertumpu pada draf pendataan administratif, melainkan lewat skema jemput bola serta pembekalan keterampilan kerja praktis.

Kepala sekolah sekaligus Kepala Yayasan PKBM Bunga Kantil Wulan Renggomanis memaparkan bahwa lembaganya saat ini mengasuh 46 peserta didik berkategori ATS.

Baca Juga: Penghayat Kepercayaan Masih Hadapi Stigma, BRIN Lakukan Kajian di Solo

Dari akumulasi draf data tersebut, sebanyak 25 orang di antaranya berada dalam kelompok usia di bawah 19 tahun.

Mayoritas anak binaan mengalami putus sekolah akibat benturan faktor ekonomi domestik, kendala problem sosial, hingga riwayat kenakalan remaja.

Guna menjaring anak-anak tersebut, PKBM Bunga Kantil membangun sinergi bersama perangkat kelurahan dan kecamatan untuk menggelar sosialisasi langsung di tingkat perkampungan.

"Kami biasanya meminta rekomendasi dari kelurahan. Dari sana kami datangi satu per satu dan berusaha membujuk mereka agar mau kembali belajar," kata Wulan, Minggu (7/6/2026).

Ia mengakui bahwa memulihkan motivasi belajar anak yang telah lama putus sekolah memiliki hambatan psikologis yang tinggi.

Menyiasati hal tersebut, lembaga menerapkan strategi penjenamaan (branding) program dengan menyisipkan muatan keterampilan nonteknis (soft skill) yang adaptif terhadap tren anak muda.

Baca Juga: Balap Liar Jadi Target, Puluhan Motor Berknalpot Brong Diamankan di Solo

Lembaga ini mengintegrasikan kelas pelatihan barista ke dalam kurikulum wajib mingguan untuk peserta didik laki-laki, serta program pemberdayaan perempuan bagi peserta didik wanita.

Kurikulum kejuruan ini difungsikan sebagai draf stimulan sekaligus bekal utama agar para lulusan dapat terserap ke sektor industri atau membangun unit usaha mandiri.

"Barista sudah menjadi bagian dari pembelajaran. Harapan kami mereka bisa bekerja di coffee shop atau membuka usaha sendiri," jelas Wulan.

Selain memberikan transfer pengetahuan, PKBM Bunga Kantil memfasilitasi akses penyaluran kerja nyata.

Baca Juga: SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Sabet Nilai TKA Tertinggi Se-Kota Solo, Dua Siswa Raih Nilai 100!

Beberapa peserta didik diberdayakan langsung pada unit usaha kedai kopi milik yayasan, sementara pada momentum menjelang Lebaran lalu, sekitar 30 hingga 40 persen komoditas siswa ATS berhasil disalurkan untuk bekerja di sektor industri pabrik roti.

"Dengan bekerja mereka bisa mendapatkan penghasilan dan membantu orang tua. Banyak anak yang sebenarnya lebih membutuhkan pekerjaan dan pendapatan sambil tetap melanjutkan pendidikan," urai Wulan.

Kendati demikian, tantangan internal pasca-pendataan masih sering ditemukan di lapangan.

Fenomena siswa yang tidak aktif atau berhenti setelah mengikuti satu hingga dua kali pertemuan tatap muka menjadi draf evaluasi berkala pihak sekolah.

Wulan berharap sekolah formal dapat mempercepat koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Solo apabila mendeteksi adanya draf siswa yang keluar atau tidak melanjutkan jenjang sekolah.

Keterlambatan pasokan data dinilai menyulitkan proses persuasi karena banyak anak yang posisinya telah berpindah, menikah, bekerja, atau terdata telah meninggal dunia.

Baca Juga: Perwali Sampah Segera Terbit, Warga Solo Diminta Mulai Pilah dari Rumah

Dari aspek finansial manajemen, PKBM Bunga Kantil menerapkan kebijakan subsidi silang di mana 70 persen peserta didik dibebaskan dari biaya pendidikan alias gratis, sementara sisanya membayar dengan draf skema kemampuan keluarga.

"Ini memang dilema, seperti buah simalakama. 70 persen siswa kami gratis meskipun biaya operasional seringkali lebih tinggi, tetapi PKBM itu kan memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat," terangnya.

"Karena itu kami tetap berjuang agar anak-anak yang putus sekolah masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memiliki keterampilan hidup," pungkas Wulan. (alf)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#anak putus sekolah di kota solo #pkbm bunga kantil solo #pelatihan barista #salurkan kerja