RADARSOLO.COM — Sepanjang April hingga Juni 2026, Tim Dusun Binaan Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) UNS 2026 bersama dengan Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar aksi kepedulian lingkungan yang inspiratif.
Kolaborasi ini berfokus pada bidang Pharmaceutical Technology and Drug Delivery dengan menggelar serangkaian kegiatan edukatif di RW 39 Dusun Jatirejo, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo.
Agenda utama dari pengabdian ini adalah mendongkrak kesadaran masyarakat setempat mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh.
Implementasinya menyasar pada penerapan pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga.
Tidak sekadar membagikan teori atau edukasi, tim kolaborasi UNS ini juga memperkenalkan inovasi pemanfaatan bahan-bahan alami yang sangat mudah dijumpai di pekarangan rumah.
Bahan tersebut diolah menjadi produk kebersihan tangan (hand sanitizer) mandiri yang dinilai lebih aman, praktis, serta ramah kantong.
Grup Riset bidang Pharmaceutical Technology and Drug Delivery UNS ini dikomandoi langsung oleh Prof Dr apt Ahmad Ainurofiq, SSi, MSi selaku ketua tim.
Dia dibersamai oleh jajaran akademisi dan ahli farmasi sebagai anggota.
Mereka yakni apt Adi Yugatama, SFarm, MSc, PhD; apt Fea Prihapsara, SFarm, MSc; Hana Anisa Fatimi, SFarm, MPharm Sci; apt Imam Prabowo, SFarm, MFarm; serta apt Rizky Dwi Larasati, MSFarm.
Mengukur Pengetahuan Warga Lewat Skema Interaktif
Sebanyak 17 warga perwakilan RW 39 hadir dan mengikuti seluruh segmen acara dengan penuh antusiasme.
Sebagai langkah awal untuk mengukur pemahaman dasar atau baseline knowledge masyarakat terkait urgensi sanitasi tangan dalam memutus rantai penyebaran penyakit, panitia terlebih dahulu menggelar sesi pretest.
Selepas itu, tim membagikan leaflet edukatif berdesain menarik yang memuat poin-poin penting PHBS serta panduan ringkas manfaat penggunaan antiseptik tangan.
Media cetak ini dibagikan agar warga memiliki bahan rujukan yang dapat mereka baca dan pelajari kembali di rumah selepas acara berakhir.
Sesi berikutnya adalah pemaparan seminar inti oleh apt Rizky Dwi Larasati. Tema yang diangkat yakni mengenai pemanfaatan jeruk nipis dan lidah buaya sebagai formula hand sanitizer alami.
Baca Juga: Ubah Limbah Jadi Berkah, KKN UNS Kelompok 70 Ajarkan Siswa SDN 1 Kaliabu Bertanam Hidroponik Kreatif
Dalam ulasannya, Rizky menggarisbawahi bahwa penularan bakteri patogen serta virus berbahaya sangat masif terjadi melalui media kontak fisik langsung, percikan cairan (droplet), udara, hingga konsumsi makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi.
Atas dasar itulah, pembiasaan cuci tangan berkala, sterilisasi lingkungan tempat tinggal, serta penggunaan hand sanitizer darurat menjadi pilar pertahanan utama dalam menangkal penyakit.
Warga juga dibekali wawasan mengenai etika penggunaan antiseptik yang benar, efektivitasnya sebagai pembersih praktis tanpa air, hingga pengenalan ragam jenis sediaan hand sanitizer yang lazim beredar di pasaran.
Rahasia Kandungan Jeruk Nipis dan Lidah Buaya
Lebih dalam, tim farmasi UNS mengupas tuntas alasan ilmiah di balik pemilihan jeruk nipis (Citrus aurantiifolia) dan lidah buaya (Aloe vera) sebagai bahan baku utama:
Jeruk Nipis: Diketahui kaya akan asupan Vitamin C, flavonoid, dan saponin. Kombinasi senyawa aktif ini tidak hanya bertindak sebagai agen antioksidan dan antibakteri alami yang kuat, tapi juga mampu memberikan sensasi aroma segar alami pada produk.
Lidak Buaya: Menyimpan kandungan aloin, vitamin E, serta saponin. Zat-zat ini tidak sekadar memperkuat daya lawan terhadap bakteri (antibacterial), melainkan juga berfungsi sebagai moisturizer alami yang ampuh menjaga kelembapan tekstur kulit tangan agar tidak kering atau mengalami iritasi.
Penyampaian materi dikemas secara interaktif dua arah.
Hal ini membuat warga tidak hanya sekadar tahu, tapi juga paham mengapa kedua bahan organik tersebut sangat direkomendasikan sebagai alternatif proteksi diri yang aman dan minim efek samping kimiawi.
Demo Pembuatan Produk dan Evaluasi Akhir
Pasca seminar, antusiasme warga semakin memuncak saat memasuki sesi demo produk atau praktik langsung pembuatan gel hand sanitizer berbasis jeruk nipis dan lidah buaya.
Pada sesi demonstrasi ini, warga dipandu langkah demi langkah, mulai dari teknik sterilisasi alat, penyiapan takaran bahan baku, proses pencampuran (mixing) agar sediaan stabil, hingga prosedur penyimpanan yang benar demi menjaga kualitas dan masa simpan (shelf life) produk.
Metode demonstrasi dibuat sesederhana mungkin agar tidak membingungkan dan dapat direplikasi secara mandiri oleh warga dengan peralatan dapur seadanya.
Warga pun berrebut melontarkan pertanyaan mengenai efektivitas khasiat, takaran ideal, hingga ketahanan daya simpan gel yang dihasilkan.
Sesi tanya jawab dilanjutkan dengan pengisian lembar posttest.
Hasil pengujian akhir ini digunakan untuk mengukur sejauh mana peningkatan pemahaman warga usai menerima paparan materi dan menyaksikan demo praktik.
Terakhir, panitia membagikan sampel produk hand sanitizer gel hasil produksi tim kepada seluruh warga yang hadir sebagai contoh nyata yang siap diaplikasikan dalam aktivitas harian.
Melalui acara ini, kegiatan dusun binaan diharapkan tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan mampu menggerakkan kemandirian masyarakat dalam menciptakan produk kesehatan yang ekonomis, aplikatif, dan bernilai guna tinggi.
Editor : Syahaamah Fikria