Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Hari Media Sosial Nasional, Anak Rentan Jadi Korban Predator Digital dan Gangguan Mental

Alfida Nurcholisah • Kamis, 11 Juni 2026 | 18:48 WIB
Ilustrasi Hari Media Sosial Nasional yang jatuh tiap 10 Juni. (AI GENERATED)
Ilustrasi Hari Media Sosial Nasional yang jatuh tiap 10 Juni. (AI GENERATED)

RADARSOLO.COM – Di balik kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan media sosial, tersimpan tantangan besar bagi tumbuh kembang anak.

Semakin dini anak mengenal dunia digital, semakin besar pula kebutuhan akan pendampingan agar mereka tidak terjebak dalam berbagai risiko yang mengintai di ruang virtual.

Momentum Hari Media Sosial Nasional yang diperingati setiap 10 Juni, menjadi pengingat bahwa penggunaan media sosial tidak hanya berdampak pada pola komunikasi masyarakat, tetapi juga memengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan mental generasi muda.

Pakar Media Rachmah Ida menilai, anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital.

Baca Juga: Asah Kompetensi Bahasa Inggris Siswa, Hadirkan Native Speaker Dari Uzbekistan

Bahkan, tidak sedikit yang telah mengenal media sosial sejak usia dini sebelum memiliki kemampuan memadai untuk memahami risiko yang menyertainya.

“Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial. Padahal, orang tua merupakan role model utama yang seharusnya membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” ujarnya.

Menurut Ida, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah berbagai ancaman yang muncul di ruang digital.

Baca Juga: Gagal Universitas Dalam Negeri, Alumni SMA Rushd Sragen Malah Nyantol di Singapura

Mulai dari predator digital, eksploitasi anak, penyalahgunaan data pribadi, hingga paparan konten yang tidak sesuai usia.

Selain ancaman keamanan, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental anak dan remaja.

Mereka memang semakin terhubung secara virtual, tetapi pada saat yang sama berisiko kehilangan kesempatan membangun hubungan sosial yang sehat di dunia nyata.

“Media sosial membuat sebagian anak merasa cukup dengan dunia digitalnya. Akibatnya, mereka berisiko mengalami alienasi sosial karena berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Ida, dapat berdampak pada kemampuan anak dalam membangun relasi sosial, mengembangkan empati, serta melatih keterampilan komunikasi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam jangka panjang, paparan interaksi digital yang tidak terkontrol juga berpotensi membentuk pola hubungan yang lebih individualistis.

Anak dapat mengalami kesulitan memahami emosi orang lain karena minimnya pengalaman berinteraksi secara langsung.

Baca Juga: SPMB 2026 Jalur Afirmasi SD Sepi, Wali Murid Disebut Gagal Paham Kriterianya

Sebab itu, ia menegaskan bahwa keluarga memegang peran paling penting dalam membangun kebiasaan bermedia sosial yang sehat.

Orang tua tidak cukup hanya memberikan akses teknologi, tetapi juga harus hadir sebagai pendamping yang membantu anak memahami manfaat sekaligus risiko dunia digital.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran strategis dalam memperkuat kemampuan sosial anak melalui aktivitas belajar yang mendorong komunikasi, kolaborasi, dan interaksi langsung antarsiswa.

Menurut Ida, pendidikan karakter dan literasi digital harus berjalan beriringan.

Anak perlu dibekali kemampuan memilah informasi, mengenali sumber yang kredibel, menjaga keamanan data pribadi, serta memahami cara menghadapi hoaks dan manipulasi informasi yang banyak beredar di media sosial.

“Gunakan media sosial secara bijak, seperlunya, dan dengan kesadaran penuh terhadap risiko yang ada. Bijak bermedia sosial menjadi kunci agar tetap menjadi ruang yang sehat, bukan ruang yang mengendalikan penggunanya,” ujarnya. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
#hari media sosial nasional #10 juni #gangguan mental #digital #medsos