RADARSOLO.COM – Perum Bulog mulai menggeser peran mahasiswa dari sekadar peserta kuliah menjadi pelaku nyata dalam ekosistem pangan nasional. Melalui program Campus Preneur, mahasiswa didorong terjun langsung ke lapangan sebagai pengusaha muda pangan sekaligus agen penggerak ketahanan pangan di masyarakat.
Program ini menjadi strategi baru Bulog dalam menggandeng perguruan tinggi untuk memperkuat sektor pangan. Tidak hanya mengandalkan pendekatan akademik, mahasiswa kini diajak memahami persoalan pangan dari sisi praktik, mulai distribusi, pemasaran, hingga pemberdayaan masyarakat.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan kampus memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi muda yang mampu berkontribusi dalam pembangunan sektor pangan nasional.
Baca Juga: Sambut Pendaki Gunung Lawu di Malam 1 Suro, Jalur Pendakian di Karanganyar Dibuka Nonstop 24 Jam
Menurutnya, selama ini mahasiswa lebih banyak ditempatkan sebagai penerima pengetahuan. Padahal, mereka memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan berinovasi yang dapat dioptimalkan untuk menjawab berbagai tantangan pangan di daerah masing-masing.
"Mahasiswa memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan berinovasi yang besar. Melalui Campus Preneur, mereka bisa menjadi agen perubahan yang ikut memperkuat ketahanan pangan di daerah masing-masing," ujarnya saat ditemui di Solo beberapa waktu lalu.
Melalui program tersebut, Bulog membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah daerah, dan sektor pangan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Baca Juga: Dampak Harga BBM Naik: Subsidi BST Terancam Dipangkas, Transportasi Publik Bakal Lumpuh
Mahasiswa diberi kesempatan mengembangkan berbagai program, seperti Rumah Pangan Kita (RPK) Muda, menjadi Mitra Pangan Muda, hingga terlibat dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) Muda. Keterlibatan itu membuka peluang usaha sekaligus memberikan pengalaman langsung dalam mengelola rantai distribusi pangan.
BULOG menilai kehadiran mahasiswa dapat menjadi jembatan yang efektif antara program pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Selain memperluas akses terhadap bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau, mahasiswa juga diharapkan mampu menghadirkan inovasi yang relevan dengan kondisi di lapangan.
Baca Juga: Suhu Puncak Merbabu Diprediksi Drop di Bawah 5 Derajat, BTNGMb Minta Pendaki Waspada Musim Bediding
Ahmad menegaskan, Campus Preneur bukan sekadar program kewirausahaan yang berorientasi keuntungan. Program ini dirancang untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap isu ketahanan pangan yang menjadi salah satu tantangan strategis bangsa.
"Ini bukan sekadar program bisnis bagi mahasiswa. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi persoalan pangan yang ada di masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, konsep tersebut sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menekankan pentingnya pengalaman belajar di luar ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga memahami secara langsung dinamika distribusi, pemasaran, dan pengelolaan pangan di masyarakat.
Lebih jauh, Bulog melihat Campus Preneur sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap sektor pangan. Dengan semakin banyak mahasiswa yang terlibat, diharapkan lahir inovasi, jejaring usaha, dan gerakan sosial yang mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.
Karena itu, Bulog berencana memperluas program tersebut ke lebih banyak perguruan tinggi di berbagai daerah. Tujuannya agar peran mahasiswa dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan distribusi pangan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi gerakan nyata yang berkelanjutan. (atn)
Editor : Kabun Triyatno