
RADARSOLO.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan resmi meluncurkan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) tahun 2026. Program ini dirancang untuk mendorong hilirisasi hasil riset dan inovasi seni agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas melalui dunia akademik.
Salah satu aksi nyata dari program ini digagas oleh tim dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta yang diketuai oleh Dr. Ana Rosmiati, S.Pd., M.Hum., bersama anggota tim Amir Gozali, S.Sn., M.Sn., dan Sutriyanto. Mengandalkan kolaborasi dengan mahasiswa dan civitas akademika, mereka mengusung proyek transformasi bertajuk “Penguatan Kapasitas Melalui Karya Mural Edukatif”.
Mitra strategis dalam program ini adalah Sanggar Seni Kang Soer yang berlokasi di Dusun Susuhan, Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten. Sanggar multidisiplin yang didirikan oleh Drs. Soerjono, M.Sn. ini berfokus pada pengembangan seni rupa (lukis dan kriya), serta seni pertunjukan lokal.
Meski memiliki akar budaya yang kuat dengan 15–20 anggota aktif yang didominasi pemuda usia 17-30 tahun, Sanggar Seni Kang Soer menghadapi tantangan besar. Berlatar belakang pendidikan rata rata SMA/SMK, kemampuan melukis para anggota secara konvensional luar biasa, namun ketika berhadapan dengan era digital saat ini masih memerlukan pendampingan intensif.
Selain itu, manajemen sanggar selama ini masih bersifat tradisional-kekeluargaan, bergantung pada dana personal atau donasi, serta kegiatannya bersifat apresiatif non-profit. Keterbatasan infrastruktur teknologi seperti proyektor, scaffolding, dan perangkat digital juga menghambat sanggar ini untuk menghasilkan karya berskala besar dan bersaing di tengah gempuran teknologi.
Melihat kondisi tersebut, Tim PISN ISI Surakarta hadir untuk memodernisasi tata kelola sanggar sekaligus meningkatkan daya saing kolektif mereka agar mampu mandiri secara ekonomi (komersial).
Setelah melalui tahapan observasi mendalam, perizinan, dan sosialisasi bersama perangkat desa serta masyarakat setempat, Tim PISN langsung tancap gas melaksanakan enam program pelatihan strategis.
Pertama, workshop konten visual. Ini berupa perancangan konten berbasis kearifan lokal Jatinom dan respons terhadap isu sosial kontemporer.
Kedua, pelatihan integrasi QR Code, berupa penerapan teknologi QR Code pada karya mural, sehingga pengunjung dapat mengakses informasi makna digital dan pesan edukasi secara daring.
Ketiga, pelatihan teknologi alat bantu. Tepatnya berupa pemanfaatan prompt AI sebagai media perancangan karya visual dan proyektor portabel untuk teknik jiplak (tracing) visual skala besar serta penggunaan alat standar eksterior.
Keempat, workshop material & coating, yang merupakan edukasi pengetahuan alat dan bahan melukis pada media out door dan teknik pelapisan (coating) agar karya mural tahan terhadap cuaca ekstrem.
Kelima, workshop manajemen proyek (SOP). Membahas penyusunan standar operasional prosedur (SOP) profesional, mulai dari tahap negosiasi dengan klien hingga proses serah terima pekerjaan. Dan keenam, workshop branding & portofolio. Terdiri dari pembuatan katalog digital dengan tampilan modern dan menarik demi meningkatkan nilai tawar (bargaining power) sanggar di mata mitra eksternal melalui media sosial.
Sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian kegiatan, Tim PISN ISI Surakarta bersama para anggota sanggar menggelar aksi menggambar mural bersama di sekitar area sanggar pada 13–15 Juni. Karya mural ini mengangkat tema wayang yang merupakan bagian dari warisan budaya yang saat ini masih eksis di wilayah tersebut.
Melalui visualisasi wayang yang estetik, tersirat pesan edukasi kuat yang ditujukan bagi generasi muda agar tetap mencintai dan melestarikan budaya lokal di era digital.
Lewat program PISN ini, Sanggar Seni Kang Soer kini siap bertransformasi menjadi pusat literasi visual, penguat identitas lokal, sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif di Desa Gedaren, Klaten. (*/nik)
Editor : Niko auglandy