RADARSOLO.COM - Puluhan anak mengikuti kegiatan pengembangan karakter bertajuk Cap Tangan Karakter Ruang Bercerita di Taman Cerdas Gandekan, Kamis sore (18/6/2026). Program yang digagas Komunitas Transid bersama pengelola Taman Cerdas itu mengajak anak-anak mengenali keunikan diri, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri melalui berbagai permainan edukatif.
Pengelola Perpustakaan Taman Cerdas Gandekan Mahenti Yoga menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas Transid yang berfokus menghidupkan aktivitas di taman cerdas dan perpustakaan kampung.
Saat ini program berjalan di sejumlah lokasi, yakni Taman Cerdas Gandekan, Taman Cerdas Sumber, Taman Cerdas Karangasem, Perpustakaan Danukusuman, Perpustakaan Serengan, dan Putri Cempo.
"Anak-anak diajak membangun karakter. Tidak hanya bermain, tetapi juga belajar mengungkapkan perasaan dan mengenali dirinya sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Promosi Doktor UNU Surakarta Buktikan Penguatan Karakter Siswa Efektif Lewat P5RA
Menurut Mahenti, berbagai aktivitas yang dilakukan mampu melatih keterampilan sekaligus keberanian anak dalam menyampaikan pendapat dan perasaan. Hal itu dinilai penting karena tidak semua anak memiliki kepercayaan diri yang sama.
"Kami berharap kegiatan seperti ini bisa membantu anak-anak menjadi lebih mandiri dan berani mengungkapkan apa yang mereka rasakan," katanya.
Taman Cerdas Gandekan sendiri menjadi salah satu ruang gerak anak-anak di kawasan sekitar. Setiap harinya, puluhan anak memanfaatkan fasilitas perpustakaan, ruang bermain, hingga akses internet gratis yang tersedia.
"Kalau sore biasanya sekitar 30 anak yang datang. Kalau Jumat malam jumlahnya lebih banyak karena ada kegiatan belajar seni dan mewarnai," tambahnya.
Sementara itu, relawan Transid dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Walidatus Sani menjelaskan, kegiatan kali ini merupakan bagian dari modul pengenalan diri yang telah memasuki pertemuan kelima.
Dalam sesi tersebut, anak-anak diminta membuat cap telapak tangan dan menuliskan berbagai keunikan diri pada masing-masing jari. Setiap jari mewakili karakteristik yang berbeda, seperti hobi, kemampuan, hingga hal-hal yang membuat mereka istimewa.
"Tujuannya agar anak-anak lebih menghargai keunikan yang mereka miliki. Kadang ada yang minder karena merasa belum pandai dalam hobinya. Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri mereka," jelasnya.
Baca Juga: Antisipasi Kemarau Panjang, BPBD Karanganyar Siagakan Tiga Armada Mobil Dropping Air
Selain itu, komunitas ini juga menghadirkan berbagai permainan tematik yang mendorong anak berefleksi terhadap perilaku sehari-hari. Salah satunya melalui permainan membuat pesawat kertas yang berisi sifat baik dan sifat buruk yang dimiliki peserta.
"Anak-anak diajak mengenali kekurangan dan kelebihannya. Harapannya mereka bisa mulai mengurangi sifat yang kurang baik dan mempertahankan hal-hal yang positif," katanya.
Baca Juga: FKUB Solo Raya Perkuat Moderasi Beragama, Pendirian Rumah Ibadah Disorot
Walidatus menambahkan, para relawan berasal dari berbagai perguruan tinggi di Solo seperti UNS, UMS, dan UIN Raden Mas Said yang sengaja dihimpun untuk menghidupkan perpustakaan kampung dan taman cerdas se-Solo. Keberagaman latar belakang relawan juga sengaja dihadirkan agar anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sejak dini.
"Selain mengenal diri sendiri, mereka juga belajar bersosialisasi dan melihat keberagaman dari kakak-kakak relawan yang mendampingi. Itu menjadi nilai penting dalam proses pembentukan karakter anak," pungkasnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy