RADARSOLO.COM - SMPN 21 Solo menguatkan branding sekolah berbasis kebudayaan. Hal itu ditunjukkan melalui Gelar Karya Hasil Belajar bertema Menjaga Aliran Merawat Budaya Bengawan yang digelar di sekolah, Kamis (18/6/2026).
Kabid SMP Dinas Pendidikan Kota Solo Abi Satoto mengatakan, setiap sekolah didorong memiliki identitas dan keunggulan masing-masing sesuai potensi yang dimiliki. Di SMPN 21, salah satu fokus yang dikembangkan adalah kebudayaan.
"Kalau SMPN 21 ini membranding dengan kebudayaan. Selain juga desain, teknologi, dan belajar di alam. Sekolah-sekolah kami dorong memiliki branding masing-masing yang menunjukkan keunggulan yang dimiliki sekolah," ujarnya.
Baca Juga: Relawan Mahasiswa Dampingi Anak Kenali Potensi Diri dari Cap Tangan Karakter Ruang Bercerita
Menurut Abi, pembelajaran berbasis Bengawan Solo menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal berbagai bidang ilmu sekaligus. Dari kegiatan belajar di sungai, siswa dapat menemukan aspek sejarah, seni, teknologi, hingga lingkungan yang kemudian diolah menjadi berbagai karya.
"Ini menjadi pemantik agar anak-anak berpikir kritis dan melatih literasi mereka. SMP itu masih tahap dasar, sehingga anak-anak perlu punya gambaran dan wawasan yang luas sebelum nanti menentukan bidang yang diminati," katanya.
Baca Juga: Promosi Doktor UNU Surakarta Buktikan Penguatan Karakter Siswa Efektif Lewat P5RA
Kepala SMPN 21 Solo Wegang Sulanjari menjelaskan, gelar karya merupakan puncak pembelajaran berbasis Sungai Bengawan Solo yang selama ini dilakukan siswa melalui observasi, eksplorasi, wawancara dengan tokoh masyarakat, hingga penelitian lapangan.
Kegiatan tersebut dibagi dalam tiga pusat kegiatan, yakni expo karya di aula, bazar di halaman sekolah, dan panggung seni. Berbagai hasil pembelajaran dipamerkan, mulai video dokumenter, karya seni, alat deteksi banjir, aplikasi koding AI Bebindo, sabun sereh, aromaterapi, hingga media pembelajaran tiga dimensi.
"Pembelajaran ini berfokus pada sejarah, sosial ekonomi, budaya, ekologi, dan wisata air Bengawan Solo. Hasilnya kemudian dipamerkan agar dapat diapresiasi oleh teman-teman maupun orang tua," terangnya.
Selain pameran karya, panggung seni juga menampilkan wayang orang kolaborasi siswa dan guru dengan dalang Ki Warsito Jati, dengan lakon Tirta Pawitra Sanjiwani/Dewaruci yang berdurasi satu jam.
"Biasanya wayang berlangsung enam sampai delapan jam. Kali ini dikemas satu jam supaya anak-anak tetap fokus dan tidak bosan mengikuti pertunjukan," tambahnya.
Sementara itu, salah satu peserta gelar karya Rizky Adila Faras siswa kelas VII B. Dia menampilkan kolase pahlawan dari limbah plastik sachet yang dibuat bersama teman sekelasnya.
"Aku bikin kolase pahlawan dari plastik sampah sachet. Kami tinggal memotong plastik sesuai bentuk sketsa yang sudah dibuat. Senang karena jadi lebih mengenal pahlawan nasional," ujarnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy