RADARSOLO.COM - Kreativitas siswa SMPN 21 Solo tak hanya ditunjukkan melalui prestasi akademik, serta karya seni dan budaya.
Tiga siswanya berhasil mengembangkan Sipas IOT (sistem pemantauan dinamika air sungai), yakni alat pendeteksi dini banjir berbasis sensor ultrasonik.
Sipas IOT dikembangkan oleh Asyifa Zahra Senja Kinasih dan Gibran Aditya Nugraha dari kelas VII, serta Juno Caesar Adyatama dari kelas VIII.
Proyek tersebut mendapat pendampingan dari guru informatika Muhammad Anton Kuncoro.
Baca Juga: Kuliah di Luar Negeri Bukan Satu-satunya Pilihan, UIN Surakarta Tawarkan Standar Global
Juno menjelaskan, alat early warning system (EWS) yang mereka buat berfungsi mendeteksi ketinggian muka air. Selain itu, juga memberikan prediksi potensi banjir melalui sistem peringatan dini.
Sensor ultrasonik pada alat akan memancarkan gelombang ke permukaan air. Kemudian menerima pantulan gelombang tersebut untuk menghitung jarak antara sensor dan permukaan air.
Baca Juga: Pendaftar Afirmasi Membeludak, Kuota SPMB di Solo Dialihkan ke Domisili
“Kalau jaraknya semakin dekat, berarti air naik. Data itu ditampilkan di LCD. Kalau sudah mencapai batas tertentu, alat akan mengeluarkan alarm dan muncul peringatan apakah kondisi masih aman atau sudah bahaya,” jelasnya, Jumat (19/6).
Perangkat tersebut terdiri atas papan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat pemrosesan data, sensor ultrasonik, layar LCD, serta sistem alarm.
Seluruh komponen dirakit dan diprogram sendiri oleh tim siswa setelah melakukan riset selama sekitar satu bulan.
“Belajarnya otodidak dari YouTube dan Google. Proses pembuatannya sekira satu bulan, termasuk riset dan percobaan,” ujar Juno.
Dalam proses pengembangan, Juno dkk menghadapi berbagai kendala teknis. Mulai dari layar LCD yang tidak menampilkan data, hingga kesalahan pemasangan komponen yang sempat menyebabkan korsleting.
“Pernah LCD-nya tidak muncul tulisan. Sempat salah menyambungkan komponen juga. Tapi akhirnya bisa diperbaiki,” kenangnya.
Menariknya, alat tersebut tidak hanya diuji melalui simulasi di sekolah menggunakan bak dan srkulasi air.
Mereka juga melakukan uji coba langsung di Sungai Bengawan Solo, untuk mengetahui kemampuan sensor dalam membaca ketinggian air.
Baca Juga: SMPN 21 Solo Perkuat Branding Kebudayaan Lewat Gelar Karya Bengawan
“Kami sudah mencoba langsung di Sungai Bengawan Solo. Caranya dengan mendekatkan alat ke arah air. Alatnya bisa mendeteksi ketinggian air sesuai yang diharapkan,” bebernya.
Menurut Juno, tujuan utama pembuatan alat tersebut adalah membantu masyarakat memperoleh informasi lebih cepat ketika terjadi kenaikan debit air yang berpotensi menimbulkan banjir.
“Harapannya, alat ini bisa digunakan sebagai peringatan dini banjir. Sehingga masyarakat bisa melakukan evakuasi lebih cepat sebelum banjir datang,” ujarnya.
Meski demikian, alat ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut supaya deteksi yang dihasilkan bisa tersambung dengan gadget.
Kepala SMPN 21 Solo Wegang Sulanjari berharap, inovasi tersebut bisa dikembangkan lagi agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas.
“Kami berharap masih ada pengembangan, seperti terintegrasi dengan handphone (HP). Supaya masyarakat bisa mendapat alarm deteksi dini sebelum adanya banjir,” jelasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto