Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Lepas dari Gawai dan Anak-Anak Kembali Bermain Mainan Tradisional dalam Festival Dolanan Bocah

Alfida Nurcholisah • Minggu, 21 Juni 2026 | 18:27 WIB
CERIA: Anak-anak terlihat asyik bermain mainan tradisional dalam Festival Dolanan Bocah. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
CERIA: Anak-anak terlihat asyik bermain mainan tradisional dalam Festival Dolanan Bocah. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Gelak tawa anak-anak bersahutan di arena Festival Dolanan Bocah yang digelar di Dalem Joyosuran, Sabtu-Minggu (20-21/6/2026). Di tengah maraknya penggunaan gawai sejak usia dini, festival ini menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk kembali mengenal permainan tradisional.

Beragam permainan tradisional seperti egrang, tarik tambang, balap karung, dakon dan motor motoran menjadi daya tarik pengunjung. Tak hanya itu, peserta juga diajak mengikuti workshop membuat mainan dari pelepah pisang, karet dan lempung.

Ketua Pelaksana Festival Dolanan Bocah Relik Baru Priambodo mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengembalikan pengalaman masa kecil yang kini mulai ditinggalkan generasi muda.

"Anak-anak sekarang lebih banyak berinteraksi dengan gadget. Kami ingin menunjukkan bahwa permainan tidak hanya ada di layar ponsel, tetapi juga bisa dimainkan bersama teman-teman secara langsung," ujarnya, Minggu (21/6/2026).

Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1: 16 Nama Dicoret dari Skuad Musim Depan, Adhyaksa FC Mulai Bergerak

Menurutnya, permainan tradisional memiliki banyak manfaat yang tidak diperoleh permainan di HP. Selain melatih kemampuan bersosialisasi, permainan tradisional juga mengajarkan pendidikan karakter seperti empati, sportivitas, serta kemampuan menerima kekalahan sesama teman.

"Yang ingin kami soroti adalah pendidikan karakter. Anak-anak belajar bekerja sama, bersosialisasi, dan berbesar hati ketika kalah. Nilai-nilai seperti ini sangat penting dan banyak ditemukan dalam permainan tradisional," jelasnya.

Baca Juga: Sekolah Di Sukoharjo Dilarang Jual-Beli Seragam, Buntut Aduan Masyarakat Di SMPN 1 Baki

Antusiasme masyarakat pun cukup tinggi. Selama dua hari pelaksanaan, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai hampir 500 orang yang datang dari Solo, Karanganyar, Sukoharjo, dan daerah sekitar.

Bagi sebagian orang tua, festival tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan permainan masa kecil kepada anak-anak mereka. Salah satunya Sosro Hadi Wibowo yang datang bersama keluarga. Ia mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut karena dapat memperkenalkan permainan tradisional kepada generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.

"Anak-anak sekarang sejak kecil sudah mengenal HP dan lebih sering bermain gadget. Dengan festival seperti ini mereka bisa tahu permainan asli Indonesia yang dulu sering dimainkan," katanya.

Sosro mengaku ikut bernostalgia ketika melihat berbagai permainan yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. Egrang bambu hingga permainan tali menjadi beberapa permainan yang dulu akrab dimainkan bersama teman-teman sekampung.

"Anak saya bahkan belum pernah melihat egrang secara langsung. Padahal saya tinggal di kampung. Jadi ini pengalaman baru bagi mereka, sekaligus nostalgia bagi saya," ujarnya.

Dia berharap Festival Dolanan Bocah dapat terus diselenggarakan secara rutin agar semakin banyak anak yang mengenal permainan tradisional dan tidak sepenuhnya bergantung pada gawai.

"Kalau bisa diadakan terus, bahkan lebih sering. Supaya anak-anak punya aktivitas bermain yang tidak perlu HP, tidak perlu listrik, dan lebih ramah lingkungan," harapnya. (alf/nik)

Editor : Niko auglandy
#anak-anak #Festival Dolanan Bocah