DAPAT PENDERAHAN: Wali murid Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 02 Solo mengambil rapot siswa. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Program pendidikan dan pembinaan karakter di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 02 Solo mulai menunjukkan hasil. Sejumlah wali murid mengaku melihat perubahan positif pada perilaku anak setelah mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.
Salah satunya dirasakan Suprihatin, wali murid kelas 4 asal Mojo, Semanggi. Dia mengaku anaknya kini jauh lebih bisa mengendalikan emosi dibandingkan saat masih bersekolah di tempat sebelumnya.
Menurutnya, dulu sang anak kerap terpancing emosi ketika mendapat ejekan dari teman-temannya. Kondisi keluarga yang membuat anaknya sering menjadi sasaran olokan menyebabkan sang anak mudah marah hingga berujung pada tindakan agresif.
“Kalau dulu di-bully temannya langsung memukul. Sering diejek tidak punya ibu karena ibunya sudah meninggal dan sekarang punya ibu tiri. Alhamdulillah sekarang berubah, hampir 100 persen. Tinggal sifat manjanya saja yang masih ada,” ujarnya setelah pengambilan rapor, Sabtu (20/6).
Baca Juga: Polisi Ingatkan Perguruan Silat: Momen Sakral Jangan Berujung Masalah Hukum
Tak hanya dari sisi perilaku, Suprihatin juga menilai perkembangan akademik anaknya cukup baik. Guru kelas mengingatkan pentingnya menjaga semangat belajar, membatasi penggunaan telepon genggam, serta membiasakan ibadah salat lima waktu tepat waktu.
Kepala SRD 02 Subkhi Widyatmoko menjelaskan, kegiatan rapotan menjadi sarana komunikasi antara sekolah dan orang tua untuk membahas perkembangan siswa selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Setelah open house, wali siswa mengambil rapor dan bisa berkonsultasi dengan wali kelas maupun wali asuh terkait perkembangan anak. Mulai dari proses pembelajaran hingga kegiatan keseharian selama di sekolah,” terangnya.
Subkhi menjelaskan, sekolah menggunakan buku penghubung sebagai media pemantauan perkembangan siswa. Buku tersebut berisi catatan berbagai aktivitas dan kebiasaan yang dilakukan anak selama berada di sekolah.
Melalui buku itu, sekolah berharap kebiasaan, positif yang dibangun selama di lingkungan pendidikan dapat dilanjutkan di rumah. Mulai dari ibadah, kemandirian, hingga budaya literasi.
“Intinya apa yang sudah dilakukan di sekolah harus dilakukan juga di rumah. Misalnya salat, kemandirian, dan literasi. Anak-anak juga dibiasakan membaca di rumah,” jelasnya.
Selain itu, wali asuh akan melakukan kunjungan ke rumah atau home visit untuk memastikan pembiasaan tersebut benar-benar diterapkan sekaligus memberikan pendampingan kepada keluarga siswa.
“Kami ingin pendidikan karakter yang sudah dibangun di SRD 02, tidak berhenti di sekolah. Karena itu ada sinergi dengan keluarga melalui buku penghubung dan home visit,” pungkasnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy