Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Batik Masuk Kurikulum Sekolah, Solo Bentengi Generasi Muda dari Putusnya Warisan Budaya

Silvester Kurniawan • Senin, 22 Juni 2026 | 18:15 WIB
Batik ciprat di Serengan, Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
Batik ciprat di Serengan, Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Upaya menyelamatkan warisan budaya batik dari ancaman putusnya regenerasi mulai dilakukan Pemkot Solo melalui jalur pendidikan. Mulai tahun ajaran 2026/2027, seni membatik resmi masuk dalam materi pembelajaran di sekolah-sekolah Kota Solo dan menjadi bagian dari mata pelajaran Seni Budaya.

Kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk mengenalkan batik tidak hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai identitas dan warisan yang harus dipahami generasi muda sejak dini.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo Dwi Ariyatno mengatakan, materi seni membatik akan melengkapi pembelajaran Seni Budaya yang selama ini berisi seni lukis, seni tari, dan seni musik.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ramalan, Primbon Kini Jadi Rujukan Gen Z hingga Perekrutan Karyawan Perusahaan

“Jadi dimasukkan ke mata pelajaran yang sudah ada, yakni seni budaya. Kalau sebelumnya berisi seni lukis, seni tari, dan seni musik, sekarang ditambah seni membatik,” ujarnya, Senin (22/6/2026).

Pembelajaran membatik tidak hanya bersifat teoritis. Siswa akan dikenalkan pada proses kreatif mulai dari menggambar motif, pewarnaan, hingga praktik membatik seperti yang dilakukan para perajin batik.

Baca Juga: Musim Liburan Tiba, Pasar Gede Solo Jadi Primadona Wisata Kuliner Pelajar dan Mahasiswa

Selain masuk dalam pembelajaran, seni membatik juga akan diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

“Pada 2026 ini diterapkan melalui ekstrakurikuler, tetapi rintisannya sebenarnya sudah dimulai sejak 2025 di beberapa sekolah. Tahun ajaran baru nanti akan diperluas ke lebih banyak sekolah di Solo,” jelas Dwi.

Masuknya seni membatik ke lingkungan pendidikan mendapat dukungan DPRD Kota Surakarta. Ketua Komisi IV DPRD Surakarta, Sugeng Riyanto, mengatakan pembahasan mengenai batik sebagai muatan lokal telah dilakukan cukup lama sebelum akhirnya disepakati untuk diterapkan secara bertahap.

Baca Juga: Musim Liburan Tiba, Pasar Gede Solo Jadi Primadona Wisata Kuliner Pelajar dan Mahasiswa

Menurutnya, sekolah menjadi ruang penting untuk menjaga keberlangsungan budaya batik yang selama ini mulai menjauh dari kehidupan generasi muda.

“Implementasi awalnya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Selanjutnya kami mendorong agar bisa masuk lebih kuat ke dalam kurikulum pembelajaran sehingga keberadaannya semakin terstruktur,” kata Sugeng.

Politikus PKS tersebut menilai banyak anak muda saat ini mengenal batik hanya sebagai pakaian formal tanpa memahami sejarah, filosofi, maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kondisi itu menjadi alasan kuat mengapa batik perlu diajarkan secara langsung di sekolah.

“Sekarang sudah banyak generasi muda yang kurang memahami batik, baik sejarah maupun filosofi yang ada di dalamnya. Karena itu, pendidikan menjadi jalur paling efektif untuk mengenalkan kembali akar budaya tersebut,” tegasnya.

Melalui kebijakan ini, Solo tidak hanya berupaya mempertahankan predikat sebagai kota budaya, tetapi juga menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga, memahami, sekaligus mengembangkan warisan batik di masa depan. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
#ekstrakulikuler #Seni lukis #warisan budaya #seni budaya #batik