RADARSOLO.COM – Penunjukan 170 guru muda lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP UNS untuk magang di sekolah negeri, bisa menjadi solusi mengatasi krisis guru.
Konsekuensinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo harus keluarkan anggaran tambahan untuk gaji mereka.
Wali Kota Solo Respati Ardi menjelaskan, tanbahan ratusan guru PPG menjadi energi baru bagi sekolah negeri yang kekurangan tenaga pendidik.
Di sisi lain, mereka diharapkan mendapat pengalaman mengajar sebelum nantinya mengikuti proses seleksi aparatur sipil negara (ASN).
Baca Juga: Atasi Krisis Guru Di Solo, 170 Alumni PPG FKIP UNS Magang Di Sekolah Negeri
“(Guru magang) ini kami siasati, karena pemerintah pusat menutup rekrutmen ASN baru. Maka kami kerja sama dengan FKIP UNS. Mereka nanti magang di sekolah negeri yang ada di Solo,” kata Respati usai pembekalan guru magang, kemarin (25/6).
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Dwi Ariyatno menambahkan, ratusan guru magang tersebut alumni PPG prajabatan.
Mereka telah lulus pendidikan profesi guru, namun belum memperoleh penempatan kerja.
“Skemanya magang penugasan dari UNS. Nanti kami berikan stimulan atau pembiayaan berupa tunjangan transportasi Rp 75 ribu per hari kedatangan. Harapannya, tahun depan bisa naik jadi Rp 100 ribu per hari,” jelas Dwi.
Rencananya, program magang berjalan hingga Desember, sembari menunggu kepastian dari pemerintah pusat terkait rekrutmen ASN.
Skema magang dipilih karena kebutuhan guru terus meningkat. Padahal pengangkatan guru honorer baru tidak diperbolehkan.
Fakta di lapangan, tiap bulan ada 35-40 guru di Solo yang memasuki masa pensiun. Bahkan hingga akhir tahun ini, jumlah guru yang purnatugas mencapai 250 orang.
“Kelas harus tetap berjalan. Karena belum ada pengganti dari ASN dan tidak boleh mengangkat honorer, kami pilih skema magang agar layanan pendidikan tetap terjaga,” imbuh Dwi.
Nantinya 170 guru magang ini akan ditempatkan di TK, SD, dan SMP negeri. Tak terkecuali sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.
“Formasi terbesar guru kelas sebanyak 63 orang, dan guru pendamping khusus pendidikan inklusi 33 orang. Selebihnya guru penjaskes, bahasa Indonesia, matematika, IPA, seni budaya, PPKn, bahasa Jawa, bahasa Inggris, TIK, BK, dan guru TK,” beber Dwi. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto