RADARSOLO.COM – Di tengah derasnya arus konten digital yang membanjiri layar ponsel, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) memilih menghadirkan ruang yang berbeda. Bukan ruang untuk menggulir linimasa media sosial, melainkan panggung tempat pelajar berdialog melalui sebuah pertunjukan monolog.
Parade Monolog Remaja yang digelar dalam rangka Apresiasi Karya Seni Sastra Indonesia, Senin (22/6/2026), menjadi lebih dari sekadar pertunjukan teater. Di balik pementasan empat pelajar dari Solo Raya itu tersimpan upaya mengenalkan kembali sastra kepada generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital.
Kurator Sastra pentas Parade Monolog Remaja Apresiasi Karya Seni Sastra Indonesia, Dr. Budi Waluyo, S.S., M.Pd., mengaku sengaja memilih monolog sebagai bentuk pertunjukan.
Menurut dosen FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) itu, monolog memiliki daya tarik tersendiri karena mampu menggabungkan sastra, seni peran, sekaligus penyampaian pesan dalam satu panggung.
"Saya ngobrol dengan pengelola TBJT, bagaimana kalau kita mengangkat monolog. Saya menangkap fenomena dari FLS2N. Saya lihat apresiasi monolog anak-anak SMA itu ternyata bagus sekali. Kebetulan saya juga beberapa kali menjadi juri, sehingga saya berpikir kenapa tidak kita beri panggung yang lebih luas," ujar Budi Waluyo kepada Jawapos Radar Solo, Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Kuota Sekolah Kemitraan SPMB 2026 Di Solo Masih Longgar, Cabdin VII Jateng: Minat Masyarakat Rendah
Dari sanalah lahir gagasan mengundang para juara FLS2N tingkat kabupaten di Solo Raya untuk tampil di Teater Arena TBJT. Empat sekolah akhirnya ambil bagian, yakni SMA Negeri 5 Solo, SMA Negeri 1 Gemolong, SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar, dan SMA Negeri 1 Polokarto.
Bagi Budi, pertunjukan itu bukan berhenti pada persoalan artistik di atas panggung. Tetapi ada kegelisahan lain yang ingin dijawab melalui sastra, yakni semakin berkurangnya ruang interaksi anak muda dengan kegiatan berkesenian.
"Yang pertama memang saya ingin mengurangi intensitas anak-anak muda yang sekarang bergantung pada media digital. Setelah pulang sekolah, mereka seolah setiap hari hanya bermain HP. Nah, monolog ini menjadi salah satu alternatif kegiatan yang menurut saya positif," tuturnya.
Dia meyakini seni pertunjukan mampu menghadirkan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh layar gawai. Di atas panggung, seorang pemain belajar menghayati tokoh, mengelola emosi, memahami naskah, hingga menyampaikan pesan kepada penonton.
Lebih jauh, Budi menilai sastra sesungguhnya merupakan media pendidikan karakter. Setiap cerita selalu menyimpan nilai yang dapat dipetik oleh pembacanya maupun penontonnya.
"Sastra itu ada muatan nilai yang sangat luar biasa. Ada nilai moral, nilai sosial, nilai kultur budaya, sampai nilai agama. Itu yang menurut saya wajib dipahami oleh adik-adik," katanya.
Menurutnya, selama ini sastra kerap dipahami sebatas materi pelajaran di ruang kelas. Padahal, ketika dipentaskan melalui drama, monolog, maupun pembacaan puisi, sastra mampu menghadirkan pengalaman yang lebih hidup sehingga pesan di dalamnya lebih mudah diterima.
"Saya berharap ketika mereka melihat teater, drama, monolog ataupun pembacaan puisi, mereka mendapatkan sesuatu. Jadi bukan hanya menonton pertunjukan, tetapi juga menangkap nilai-nilai yang ingin disampaikan," lanjutnya.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Melanda Sukoharjo, Debit Air Sumur Warga Menyusut
Semangat itulah yang kemudian tercermin dalam seluruh naskah yang dipentaskan malam itu. Seluruh peserta mengangkat tema besar Mencintai Bumi, Merawat Bumi, mulai dari kisah banjir akibat penebangan liar, keresahan tentang masa depan lingkungan, perjuangan melawan mafia hutan, hingga suara Memedi Sawah yang mempertahankan lahan pertanian dari kerakusan manusia.
Meski memiliki alur cerita berbeda, seluruh monolog sama-sama mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan alam. Sastra menjadi medium untuk menyampaikan kritik sosial tanpa harus menggurui.
Budi berharap panggung seperti ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Ia bahkan mengungkapkan bahwa pada Oktober mendatang Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa FKIP UNS akan menggelar festival drama berbahasa Jawa sebagai ruang apresiasi bagi pelajar.
"Kami ingin konsisten mengadakan kegiatan-kegiatan kesenian yang positif untuk adik-adik, khususnya pelajar SMA. Mudah-mudahan semakin banyak ruang yang membuat mereka dekat dengan sastra, karena melalui sastra mereka tidak hanya belajar bercerita, tetapi juga belajar memahami kehidupan," pungkasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy