Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Wartawan Korban Mafia Kayu Hidup Kembali di Panggung, Monolog Siswi SMAN 1 Polokarto Bikin Penonton TBJT Terdiam dan Terpukau

Niko auglandy • Jumat, 26 Juni 2026 | 18:23 WIB
Rara Putri Aulia, siswi SMA Negeri 1 Polokarto saat melakukan monolog di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Senin (22/6). (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)
Rara Putri Aulia, siswi SMA Negeri 1 Polokarto saat melakukan monolog di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Senin (22/6). (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Suasana Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) mendadak hening saat seorang siswi berdiri di atas panggung membawa kisah tentang keberanian, kehilangan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Melalui monolog berjudul Jari-Jari Wartawan, Rara Putri Aulia dari SMA Negeri 1 Polokarto sukses mencuri perhatian penonton dalam ajang Parade Monolog Remaja yang digelar Senin malam (22/6).

Pementasan tersebut menjadi bagian dari program Apresiasi Karya Seni Sastra Indonesia yang menghadirkan empat sekolah dari wilayah Solo Raya dan sekitarnya. Rara tampil mewakili Teater Tesaloka SMA Negeri 1 Polokarto dengan membawakan kisah yang terinspirasi dari tragedi nyata yang pernah menimpa wartawan lingkungan hidup, Abi Kusno.

Monolog tersebut berkisah tentang seorang anak yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah ayahnya menjadi korban kekerasan akibat pemberitaan investigasi terkait praktik pembalakan liar. Lewat sudut pandang tokoh “aku”, penonton diajak menyelami pergulatan batin seorang anak yang berusaha memahami keberanian sang ayah sekaligus menghadapi kehilangan yang mendalam.

“Ceritanya tentang anak seorang wartawan yang ayahnya menjadi korban mafia kayu karena mengungkap kasus penebangan liar,” ujar Rara usai pementasan.

Baca Juga: Menelaah Makna Mendalam Pementasan Wanita Dalam Pelita di TBJT: Menghidupkan Kembali Suara Marsinah

Meski hanya tampil seorang diri di atas panggung, Rara mampu menghadirkan dinamika emosi yang kuat. Ia mengaku tantangan terbesar bukan sekadar menghafal naskah, melainkan mendalami karakter seorang anak yang mengalami trauma akibat kekerasan terhadap orang tuanya.

“Kesulitannya itu bagaimana merasakan sosok anaknya Abi Kusno. Kami harus benar-benar masuk ke perasaannya,” ungkap siswi yang kini naik ke kelas XII tersebut.

Baca Juga: Melalui Monolog, Pelajar di Solo Raya Diajak Menemukan Nilai-Nilai Kehidupan dalam Sastra

Selain tuntutan emosional, tantangan teknis juga sempat dialaminya saat latihan. Salah satu adegan menggunakan properti kursi beberapa kali membuatnya kehilangan keseimbangan.

“Waktu adegan di kursi itu saya sempat jatuh. Mengontrol gerakan sambil tetap masuk ke karakter ternyata cukup sulit,” katanya.

Kecintaan Rara terhadap dunia teater ternyata sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Awalnya ia hanya ditunjuk guru Bahasa Indonesia untuk membacakan naskah drama di kelas. Dari pengalaman sederhana itu, bakatnya mulai terlihat hingga dipercaya mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

“Awalnya karena guru Bahasa Indonesia menunjuk saya membaca drama. Setelah itu saya ikut FLS2N teater waktu SMP dan sejak saat itu semakin suka dengan dunia teater,” ujarnya.

Selain penampilan Rara, Parade Monolog Remaja juga menghadirkan karya-karya menarik dari sekolah lain. SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar membawakan monolog “Surat untuk Cucuku yang Belum Lahir”. Monolog ini mengangkat kegelisahan seorang pemuda tentang masa depan lingkungan hidup.

Sementara itu, Teater Brastomolo dari SMA Negeri 1 Gemolong menampilkan monolog berjudul Kutukan Penjaga Jerami. Naskah tersebut mengisahkan jerami sawah yang dahulu menjadi simbol harapan para petani, namun kini berubah menjadi saksi bisu kerakusan manusia terhadap alam. Pemenatasan Monolog dari siswi SMAN 5 Solo juga ikut memukau penonton.

Parade Monolog Remaja menjadi ruang bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan seni peran sekaligus menyuarakan berbagai persoalan sosial melalui karya sastra. Tak sekadar hiburan, panggung tersebut juga menjadi wadah lahirnya generasi muda yang berani menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan melalui seni pertunjukan. (nik)

 

Editor : Niko auglandy
#teater #sman 1 polokarto