RADARSOLO.COM - Berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya limbah plastik, tiga pelajar SMK Al Islam Solo mengembangkan inovasi Paven.
Berupa paving block berbahan dasar limbah plastik.
Menariknya, ada sentuhan inovasi di mana paving block tersebut mampu menghasilkan energi listrik saat diinjak kaki.
Adalah Ismail Fadhlurrahman, Ajriya M., dan Naufal Fa'iz, tiga siswa kelas XII yang mengembangkan inovasi Paven. Tak sendirian, mereka didampingi guru pembina Ima Okvita.
Inovasi tersebut menggabungkan pemanfaatan limbah plastik dengan teknologi piezoelektrik sebagai penghasil listrik.
Untuk memaksimalkan pemanfaatannya, paving energi itu bisa diaplikasikan pada tempat-tempat yang ramai dilalui pejalan kaki. Bisa di halaman sekolah maupun pedestrian.
Naufal Fa'iz menjelaskan, inovasi tersebut sempat dipamerkan di ajang Krenova 2026. Bentuknya masih berupa prototipe.
“Saat ini kami masih menggunakan miniatur. Sebab kalau membuat dengan ukuran sebenarnya, butuh waktu yang cukup lama dan dana lumayan besar,” jelas Naufal, Jumat (3/7).
Naufal menambahkan, proses pembuatan paving diawali dengan memanaskan oli bekas dengan takaran 20 persen hingga mendidih.
Setelah itu, tambahkan limbah plastik sekira 60 persen hingga meleleh dan tercampur rata. Lalu dicampur pasir sebanyak 20 persen sebagai penguat, sebelum dicetak dan dikeringkan.
“Di bagian bawah paving kami pasang piezoelentrik yang dilengkapi per pegas, agar bisa kembali ke posisi semula setelah mendapat tekanan. Energi yang dihasilkan dialirkan menuju dioda, yang mengubah arus AC menjadi DC. Daya listrik itu nanti disimpan dalam kapasitor,” beber Naufal.
Pembuatan paving melibatkan seluruh anggota tim, agar mereka bisa memahami tahapan-tahapan. Tak lupa, produk ini juga diuji menggunakan multimeter, untuk mengukur tegangan listrik yang dihasilkan piezoelektrik.
“Hasilnya masih relatif kecil. Sekira 0,001 volt saja, karena komponen piezoelektrik yang digunakan ukuran kecil,” jelas Naufal.
Proyek tersebut diselesaikan dalam waktu sekira dua pekan.
Selama proses pengerjaan, tim menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari miskomunikasi, kesulitan menentukan komposisi bahan, bahkan sempat terjadi ledakan saat proses pembuatan paving.
Baca Juga: SPMB 2026, Pendaftar Sekolah Favorit Di Solo Membeludak
Mereka juga harus mempelajari sistem kelistrikan dari awal, karena belum memiliki keahlian khusus di bidang tersebut.
“Kami mengatasi kendala itu dengan mencoba berbagai formul agar bisa sesuai dan aman,” ujar Naufal.
Meski belum meraih penghargaan di ajang Krenova 2026, Naufal dkk tetap bersyukur. Sebab timnya berhasil lolos seleksi dan memperoleh kesempatan menampilkan inovasi tersebut.
“Kami tim berharap Paven ini dapat direalisasikan dalam skala nyata. Dipakai di halaman sekolah dan trotoar, sehingga energinya bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik alternatif,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto