RADARSOLO.COM - Istilah seperti feedback, healing, join, checkout, hingga mood kini semakin akrab digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.
Tidak hanya di media sosial, penggunaan bahasa asing juga banyak ditemukan pada nama kafe, pusat perbelanjaan, restoran, hingga papan informasi di ruang publik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia hidup di tengah arus globalisasi yang membuat bahasa asing semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tidak sedikit anak muda yang lebih percaya diri menggunakan istilah asing dibandingkan bahasa daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya mereka.
Baca Juga: 5 Situs Bersejarah di Karanganyar yang Menyimpan Kisah Masa Lalu
Kondisi inilah yang membuat slogan "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing" atau yang dikenal sebagai Trigatra Bangun Bahasa kembali relevan untuk diterapkan di era digital.
Balai Bahasa Provinsi Maluku menilai perkembangan budaya modern telah memengaruhi cara masyarakat memandang bahasa.
Bahasa asing kerap dianggap lebih bergengsi dibandingkan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Pengaruh tersebut terlihat dari semakin banyaknya penggunaan bahasa asing pada berbagai media dan ruang publik, bahkan tidak jarang tanpa disertai padanan bahasa Indonesia.
Dalam pengamatannya di sejumlah ruang publik di Kota Ambon, Balai Bahasa Provinsi Maluku menemukan masih banyak penggunaan bahasa asing pada reklame, spanduk, maupun papan informasi.
Baca Juga: Apa Itu “Lantam”? Ini Asal-usul, Arti, dan Alasan Tren Ini Viral di TikTok
Bahkan terdapat penulisan istilah bahasa Inggris yang digunakan bersama kalimat berbahasa Indonesia tanpa mengikuti kaidah bahasa Indonesia. Kondisi serupa juga ditemukan pada berbagai restoran, hotel, kafe, dan pusat perbelanjaan yang menggunakan menu atau petunjuk dalam bahasa asing tanpa disertai terjemahan bahasa Indonesia sehingga berpotensi menyulitkan sebagian masyarakat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa asing memang tidak dapat dihindari, tetapi tetap perlu disikapi secara bijaksana.
Menguasai bahasa asing merupakan kebutuhan di tengah dunia yang semakin terhubung. Bahasa Inggris, Mandarin, maupun bahasa asing lainnya membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, peluang pendidikan, hingga kesempatan bekerja di tingkat internasional. Namun, kemampuan berbahasa asing bukan berarti mengesampingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Dalam Trigatra Bangun Bahasa, setiap bahasa memiliki fungsi yang berbeda. Bahasa Indonesia berperan sebagai bahasa persatuan sekaligus identitas bangsa yang digunakan dalam pendidikan, pemerintahan, serta komunikasi resmi. Sementara itu, bahasa daerah menjadi warisan budaya yang mencerminkan jati diri masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Adapun bahasa asing berfungsi sebagai sarana untuk berkomunikasi dan bersaing di tingkat global.
Selain bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah juga menjadi tantangan yang tidak kalah penting.
Banyak bahasa daerah mulai terancam punah karena semakin sedikit generasi muda yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai budaya, sejarah, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Kehilangannya berarti hilangnya sebagian identitas masyarakat itu sendiri.
Bagi Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial, kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa merupakan sebuah keuntungan. Namun, tantangan yang dihadapi bukanlah memilih salah satu bahasa untuk digunakan, melainkan mampu menempatkan setiap bahasa sesuai dengan konteksnya. Bahasa Indonesia tetap diutamakan dalam ruang publik dan komunikasi resmi, bahasa daerah dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya, sedangkan bahasa asing dikuasai sebagai bekal menghadapi persaingan global.
Karena itu, slogan "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing" bukan sekadar semboyan yang dihafalkan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, slogan tersebut justru menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia dapat menjadi warga dunia tanpa harus kehilangan jati diri bangsa. Menguasai bahasa asing adalah sebuah keunggulan, tetapi mengutamakan bahasa Indonesia dan menjaga bahasa daerah merupakan tanggung jawab bersama agar kekayaan bahasa Indonesia tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Editor : Kabun Triyatno