RADARSOLO.COM - Pernah melihat tulisan soerat, djalan, atau tjoetji di buku-buku lama? Sekilas memang terlihat seperti bahasa asing. Padahal, kata-kata tersebut merupakan ejaan bahasa Indonesia yang pernah digunakan sebelum sistem penulisan yang dipakai saat ini.
Perubahan dari soerat menjadi surat bukan sekadar mengganti huruf.
Bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan ejaan sebagai upaya menyederhanakan penulisan sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan bahasa.
Mengutip laman Balai Bahasa Jawa Tengah, sistem ejaan bahasa Indonesia telah mengalami perjalanan panjang sejak awal abad ke-20 hingga kini menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V.
Ejaan pertama yang digunakan adalah Ejaan van Ophuijsen pada 1901. Ejaan ini disusun berdasarkan sistem bunyi bahasa Belanda sehingga menggunakan penulisan seperti oe untuk bunyi u, tj untuk c, dj untuk j, nj untuk ny, serta ch untuk kh. Karena itu, kata goeroe, tjoetji, djalan, dan doeloe menjadi bentuk penulisan yang lazim pada masanya.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai menyederhanakan sistem penulisan melalui Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik yang diberlakukan pada 1947.
Baca Juga: Gugup Saat Diperiksa Polisi, Pengedar Sabu di Slogohimo Wonogiri Buang Barang Bukti
Salah satu perubahan paling dikenal ialah penggantian huruf oe menjadi u, sehingga kata goeroe berubah menjadi guru. Pada ejaan ini juga mulai diperkenalkan sejumlah penyederhanaan lain, seperti penghapusan beberapa tanda baca warisan ejaan Belanda dan aturan penulisan kata ulang yang saat itu masih diperbolehkan menggunakan angka, misalnya buku2.
Penyempurnaan kembali dilakukan pada 1972 melalui Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Dalam pedoman ini, sejumlah gabungan huruf diubah menjadi bentuk yang digunakan hingga sekarang, seperti tj menjadi c, dj menjadi j, nj menjadi ny, sj menjadi sy, dan ch menjadi kh. Sistem ini kemudian menjadi dasar penulisan bahasa Indonesia modern.
Seiring perkembangan zaman, pedoman ejaan terus diperbarui. Pada 2015 pemerintah memperkenalkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), sebelum akhirnya kembali menggunakan nama EYD melalui EYD Edisi V pada 2022.
Pembaruan tersebut mencakup penyempurnaan aturan huruf kapital, tanda baca, penulisan gelar, hingga pembentukan istilah agar tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Perubahan ejaan menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti zaman. Meski bentuk penulisannya berubah dari masa ke masa, tujuan utamanya tetap sama, yakni menghadirkan sistem ejaan yang lebih mudah dipahami, digunakan, dan menjadi pedoman bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Editor : Kabun Triyatno